Cast :
- Yullya Tri Utari as Lily Russell
- Dara 2NE1 as Sandara Park
- Zhang Yi Xing EXO M as Lay
- Thunder MBLAQ as Thunder
- Lu Han EXO M as Lu Han
- Wu Yi Fan EXO M as Kris
- Huang Zi Tao EXO M as Tao
- Kim Joon Myun EXO K as Suho
- Do Kyungsoo EXO K as D.O
Support Cast: EXO, MBLAQ, SHINEE,TVXQ
Genre: Fantasy
Rate: NC *gw masih bingung kategoriinnya kemana -,-*
—————————————————***——————————————————
PROLOG
Aku menatap langit malam musim dingin London yang terbentang luas di atasku saat ini. Selalu seperti ini. Kelam dengan sedikit bintang.
“Seandainya sekarang bukan musim dingin, toko pasti tidak akan ramai dan aku bisa pulang lebih cepat untuk menghangatkan tubuh di rumah.”gerutuku sepanjang jalan sambil memperhatikan orang-orang disekitarku yang sudah mulai sibuk menyiapkan persediaan bahan makanan di rumah kalau-kalau musim dingin kali ini cukup buruk dan menghambat kegiatan normal apapun.
BRUK
“Ups… Sorry.”bisikku pelan saat aku menabrak sesuatu yang kusadari_beberapa detik kemudian_adalah seorang pria ras Asia.
Mungkin dia dari kawasan Asia Timur. Hanya saja aku tidak bisa memastikan negara mana tepatnya. Memang tidak aneh ada banyak suku bangsa di London, yang aneh adalah kenyataan kalau malam ini aku menabrak salah satu dari bangsa pendatang itu saat perjalanan pulang.
Pria itu hanya tersenyum lalu mengambil kantong belanjaku yang terjatuh begitu menabraknya tadi. “Kau tidak terluka, Nona?”tanya pria itu lembut.
Ya Tuhan! Ada banyak sekali pria tampan yang sering datang ke toko hanya sekedar membeli permen karena ingin melihat Sandara_teman yang juga memiliki hak yang sama di tokoku_yang kebetulan bertubuh mungil dengan wajah luar biasa cantik_tapi pria ini bukan hanya tampan. Dia seakan diciptakan Tuhan untuk menggantikan Rafael, malaikat yang konon katanya malaikat paling tampan. Bibirnya benar-benar membuatku nyaris seperti remaja yang sedang jatuh cinta hingga tidak bisa mengalihkan perhatian ke tempat yang lain.
Pria itu meraih tanganku dan menggenggamkan pegangan kantong belanjaan padaku. “Lain kali, berhati-hatilah kalau berjalan, Nona. Dan berbahaya jalan sendirian di malam hari untuk wanita sepertimu.”ujarnya lalu melewatiku begitu saja.
Aku hanya terpaku diam. Apa maksudnya dengan wanita sepertiku? Dan sekarang baru jam 12 malam. Tidak pernah ada kata terlalu malam di kota seperti London yang memang tidak memiliki jam malam.
“Sudahlah, Lily. Lebih baik kau pulang sekarang sebelum jari-jarimu putus karena beku.”bisikku pada diriku sendiri lalu berlari-lari kecil sepanjang beberapa blok hingga sampai ke apartemen mungilku yang jauh dari kata mewah.
Aku berlari menaiki tangga menuju apartemenku di lantai dua. Begitu sampai aku langsung mencari kunci di dalam tas dan kemudian bergegas masuk. Tanpa membuka sepatu aku langsung menyalakan pemanas ruangan dan meletakkan semua belanjaanku di dapur. Saat itulah aku baru sadar kalau kantong belanjaanku terkena noda berwarna merah.
“Oke, sepertinya saus tomat yang kubeli tumpah saat kujatuhkan tadi.”gumamku pelan sambil membongkar belanjaanku dan mendapati kalau noda merah itu bukan saus tomatku karena botol saus tomatku sama sekali tidak pecah atau cacat.
“Darah…”bisikku pelan. “Ini darah pria tadi. Ya Tuhan! Dia terluka separah ini dan masih bisa tersenyum dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa mengeluarkan darah sebanyak ini?”
Ketakutan mulai merayapi hatiku. Bagaimana kalau ini bukan darahnya? Bagaimana kalau ini darah orang lain? Bagaimana kalau dia pembunuh? Dan ini darah korbannya, bukan darah pria itu? Bagaimana kalau aku ternyata telah melepaskan pembunuh begitu saja ke tengah keramaian London, bukannya menyerahkannya pada polisi?
“Apa yang harus aku lakukan?”
Tiba-tiba telpon rumahku berdering, ketakutanku sampai pada batas maksimum saat ini. Siapa yang menelpon selarut ini? Aku tidak punya banyak kenalan selain beberapa orang pekerjaku, dan aku juga jelas tidak punya keluarga. Jadi siapa yang menelponku selarut ini?
Aku hanya menatap telpon itu hingga deringnya berhenti dan mesin penjawab telponku berbunyi.
“Lily kau belum sampai? Semoga kau belum tertidur, ponselmu ketinggalan di laci meja kasir. Aku akan menunggu sampai Thunder menjemputku yang berarti hanya sampai jam 2. Kalau kau ingin mengambilnya, ambil sekarang atau besok saja.”
Itu suara Dara!
“Bodohnya aku.”gumamku pelan lalu segera mencuci tangan dan bergegas kembali ke toko untuk mengambil ponselku.
“Tidak biasanya kau sampai ketinggalan barang ini, Lily.”tegur Dara begitu melihatku melangkah memasuki toko.
Kulihat kalau Thunder sudah duduk di hadapannya dan kemudian tersenyum padaku. Aku selalu iri pada mereka. Bagaimana bisa mereka mendapatkan anugrah yang sangat berlebihan seperti ini? Wajah cantik, tubuh mungil, dan kulit mulus yang dimiliki Dara kuyakini akan sanggup membuat beberapa wanita rela membunuh dokter kulit hanya untuk mendapatkan apa yang Dara miliki sejak lahir. Wajah tak berdosa, suara bagus, dan tubuh tinggi yang dimiliki Thunder membuatnya sukses bekerja sebagai penyanyi dan dipuja wanita. Dan sebagai saudara, mereka telah membuat iri orangtua manapun di dunia ini. Untung saja aku tidak mengenal siapa orangtuaku.
“Thunder sudah tiba dan kau masih menungguku?”tanyaku begitu saja menghempaskan tubuhku ke kursi kosong di sebelah Thunder.
Dara merengut. Membuatnya jauh dari kata wanita berusia 28 tahun. “Kau selalu tidak pernah berterima kasih padaku.”gerutu wanita itu lalu menyerahkan ponselku. “Tapi kalau kau berterima kasih, mungkin aku yang akan dirawat karena terlalu shock mendengarnya. Karena aku sudah memberikan barang pada pemiliknya, sekarang aku mau pulang sebelum ada fans Thunder yang menghancurkan toko ini hanya untuk mengambil foto adikku yang tak berguna ini.”sambung Dara lalu segera bangkit.
“Sampai jumpa, Lily.”pamit Thunder ramah lalu mengecup pipiku sebelum mengikuti kakaknya keluar dari toko setelah memakai kembali topi dan kacamatanya.
Entah kenapa Dara memilih bekerja di toko barang harian seperti ini daripada menjadi artis seperti adiknya. Bahkan kalau Dara tidak bekerja, aku yakin kalau penghasilan Thunder lebih dari cukup untuk menghidupi selusin anak jalanan. Mereka memang sangat beruntung. Dan aku juga cukup beruntung karena bisa bersahabat dengan Dara walau usia kami terpaut 6 tahun dan berteman dengan Thunder yang lebih muda dariku setahun. Mereka berdua memperlakukanku dengan sangat baik.
Berhubung tidak ada lagi yang harus kulakukan, aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan istirahat. Semoga tidak ada kejadian aneh lagi di jalan kali ini, seperti menabrak orang atau mendapati kalau ada darah di kantong belanjaanku.
***
Sudah seminggu berlalu sejak insiden aku menabrak laki-laki berdarah itu. Tapi selain keanehan yang kutemui setelah pulang mengambil ponsel, aku sama sekali tidak menemukan keanehan apapun bahkan aku juga masih hidup sampai detik ini. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Tiga kali shift malam, tiga kali shift siang, dan satu hari libur. Walau itu adalah tokoku bersama Dara, aku ingin terlibat langsung setiap harinya.
Keanehan yang kukatakan adalah kantong belanjaku yang ada noda darah pria itu menghilang saat aku kembali ke rumah setelah mengambil ponselku di toko. Aku yakin kalau meletakkan kantong itu ke dalam tempat sampah. Tapi saat aku pulang, tidak ada kantong apapun di dalam tempat sampahku. Kantong itu lenyap begitu saja. Aku tidak berani berpikir kalau kantong itu diambil oleh sipemilik darah. Tidak. Karena kalau aku berpikir seperti itu artinya aku mengakui kalau pria itu masuk ke dalam apartemenku yang aku yakini sudah kukunci! Dan aku tidak mau memikirkannya karena aku akan ketakutan setengah mati saat memasuki rumahku karena aku tahu ada seorang pria diluar sana yang bisa keluar masuk rumahku tanpa meninggalkan jejak apapun.
TIN TIIINNN~~~
Suara klakson menyadarkanku dari semua pemikiran yang entah kenapa menggangguku hari ini. Aku mencari arah sumber suara klakson itu karena aku sudah berjalan di trotoar dan kenapa aku masih harus ditegur dengan suara klakson mobil???
Kulihat sebuah sedan sporty keluaran Audi terparkir manis beberapa langkah dariku. Seorang pria yang sangat kukenal keluar dari sedan biru itu dan tersenyum padaku. Ya Tuhan. Lihat dia! Bagaimana bisa dia tidak memakai topi atau kacamata yang biasa dipakainya untuk menyembunyikan jati dirinya? Kenapa dia muncul di siang bolong seperti ini di tengah keramaian London? Oh, maaf, bukan siang bolong, tapi sesore ini?
“Melamun sendirian, Lily?”tanya Thunder sambil menghampiriku tanpa memperdulikan kalau sekeliling kami sudah mulai membisikkan namanya.
“Apa yang kau lakukan disini, Thunder? Dimana topi dan kacamatamu? Dimana Dara?”tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.
Kulihat Thunder memperhatikan kesekeliling kami, menyadari kalau dia menjadi pusat perhatian dan dengan sangat cepat dia menarik tanganku, mendorong tubuhku agar masuk ke dalam mobilnya sementara dia berputar ke kursi pengemudi dan beberapa detik kemudian kami sudah melaju di jalanan.
“Aku meralat pertanyaanku. Apa yang akan kau lakukan padaku?”
Lagi-lagi pemuda itu tersenyum. Dan sialnya, wajahnya memang wajah tidak bersalah. Entah malaikat mana yang menganugrahkan wajah tanpa dosa ini padanya. Yang pasti, tidak seorangpun wanita yang sanggup memarahinya kalau dia sudah tersenyum.
“Aku butuh pasangan malam ini dan Dara menolak dengan sangat tegas untuk menemaniku. Jadi karena aku tahu kalau kau juga akan menolak kalau aku bertanya, makanya aku menculikmu seperti ini.”jawab Thunder begitu saja.
Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. “Pasangan? Untuk apa?”
Thunder meliriknya takjub. “Kau tidak pernah menonton televisi, Lily? Yang benar saja? Malam ini ada acara music award. Dan aku tidak mungkin datang sendiri.”
“Kau ingin mengumpankanku pada media massa?”tanyaku tidak percaya. “Oh, tidak, Thunder. Aku tidak mau kehidupanku yang tenang ini jadi hancur karena menjadi pasanganmu malam ini.”
“Tapi aku sangat membutuhkanmu.”
“Aku tahu. Kalau aku bisa, aku pasti akan membantumu.”
“Kau bisa membantuku. Hanya kau yang bisa.”
“Tapi…”
“Hanya kau yang kuinginkan jadi pasanganku.”
“Aku ta…”aku sama sekali tidak melanjutkan ucapanku. “Apa yang kau katakan barusan?”
“Aku hanya menginginkanmu untuk jadi pasanganku. Aku tidak butuh orang lain. Selama ini aku tidak pernah menjadikan wanita manapun sebagai pasanganku untuk acara formal apapun. Hanya kau.”
Aku menggeleng cepat. “Aku lebih tua darimu.”
“Lalu kenapa? Apa urusannya? Aku tidak peduli tentang usia.”
“Aku bahkan lebih cocok jadi kakakmu.”
“Aku tidak pernah menganggapnya seperti itu. Usia kita hanya berbeda 1 tahun. Kau kira untuk apa aku selalu bersedia menjemput Dara saat yang kubutuhkan adalah istirahat lebih banyak karena semua jadwalku yang sangat padat? Itu semua kulakukan karena aku bisa melihatmu.”
“Cukup, Thunder. Kau pasti hanya bercanda. Kau mengatakan ini karena ingin aku menjadi pendampingmu malam ini.”
“Tidak juga. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Di acara itu ataupun tidak, aku tidak peduli.”
Aku memperhatikan laki-laki yang satu tahun lebih muda dariku ini. “Kau serius? Jadi kau tidak akan datang ke acara itu kalau aku tidak bersedia jadi pendampingmu?”
“Kalau kau tidak datang, untuk apa aku ada disana? Aku ingin bersama denganmu.”
“Kau tidak bisa seperti ini!”
“Kau bersedia?”
Aku terdiam. Mau tidak mau aku harus menemaninya. Dengan sangat pelan aku mengangguk enggan. Baik dia maupun kakaknya sangat ahli dalam membuatku mengatakan iya. Mereka sangat ahli memanipulasi perasaanku. Mereka tahu kalau aku tidak pernah suka menjadi ‘yang disalahkan’ sehingga aku cenderung mengalah agar mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, dalam batas-batas tertentu. Tapi aku tetap tidak bisa marah atau benci pada mereka.
Aku sama sekali tidak mengenal siapa wanita yang sedang berdiri di depan cermin ini. Gaun China dengan model leher turtleneck tanpa lengan berwarna merah lembut membuatku terlihat sangat berbeda. Awalnya aku memang menyukai gaun ini karena motif naganya yang melintang dari leher bagian kanan hingga ke paha kiri. Tapi siapa sangka kalau tepat diujung ekor naga itu dimulailah belahan rok hingga ke mata kaki yang nyaris memamerkan seluruh pahaku. Dan aku kalah suara dengan pemilik butik dan Thunder yang memaksaku untuk mengenakan gaun ini.
Kami tiba tepat waktu di tempat acara begitu red carpet dilangsungkan. Dengan satu tangan menggandeng lengan Thunder, aku berusaha menebar senyum pada siapapun yang menegur Thunder sampai pria itu datang.
“Hallo, Thunder. Kau berhasil mencuri perhatian seluruh wartawan dan undangan malam ini dengan membawa wanita paling cantik disini.”ujar pria tampan dengan senyum mematikan yang kini berdiri di hadapanku ini.
Walaupun penampilannya cukup jauh berbeda, tapi aku tahu kalau pria ini adalah pria yang sama dengan yang kutabrak seminggu yang lalu. Minggu lalu dia mengenakan jaket kulit hitam dan celana kulit yang sangat membentuk tubuhnya. Tapi malam ini dia mengenakan stelan mewah berwarna putih dengan kemeja hitam. Aku tidak tahu harus takut atau malah terpesona padanya. Kalau sebelumnya aku sempat protes karena malaikat memberikan wajah tanpa dosa pada Thunder, maka kini aku akan memprotes kenapa malaikat mengizinkan makhluk lain berwajah layaknya malaikat?
“Hallo Lay. Dimana pasanganmu? Sepertinya kau sendirian malam ini?”balas Thunder sopan lalu bersalaman dengan pria yang dipanggilnya Lay itu.
Keringat dingin mulai menjalari punggungku saat kedua mata Lay menatap mataku. Dan kalau ada yang bertanya padaku, aku berani bersumpah kalau matanya berubah warna! Awalnya memang hitam, tapi selama beberapa detik tadi, matanya berwarna perak kehijauan. Kini bukan hanya bibirnya yang menarik perhatianku, tapi keseluruhan dirinya adalah magnet bagiku.
“Kali ini aku tidak bisa menemukan pendamping yang cocok. Apalagi setelah melihat pasanganmu malam ini, aku rasa tidak ada wanita yang bisa mengangkat harga diriku lebih tinggi darimu. Kau sukses mendapatkan perhatian dunia malam ini dengan membawa wanita cantik ini.”ujar Lay lembut lalu meraih tanganku dan mencium punggung tanganku cukup lama dari yang seharusnya. “Hallo, Miss?”
“Lily Russell.”jawab Thunder saat menyadari kalau aku sama sekali tidak bisa bersuara.
Jarinya… Untuk ukuran laki-laki, maka makhluk di hadapanku ini memiliki jari langsing dan panjang. Jari laki-laki paling indah yang pernah kulihat. Oke. Aku memilih untuk menghadapinya, siapapun pria ini. Dan kalau dia memang pembunuh, aku tidak takut. Selain kenyataan kalau aku cukup bisa ilmu bela diri, tempat ini juga sangat ramai. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan kalau dia menginginkan aku lari ketakutan malam ini.
“Hallo, Ms. Russell. Kita bertemu lagi.”ulang Lay ramah lalu tersenyum padaku.
Aku berusaha membalas senyumnya. “Hallo, Mr. Lay, atau aku boleh memanggilmu Lay saja?”
“Lay saja, please. Belum pernah ada orang yang memanggilku Mr. Lay, karena Lay adalah nama panggilanku.” Dan lagi-lagi pria itu memberikan senyum 1000 watt-nya padaku.
“Aku rasa malam itu ada sesuatu yang terjadi bukan? Kau terluka.”ujarku mulai memancingnya.
Thunder melihatku dan Lay bergantian. “Kalian sudah pernah bertemu?”tanya Thunder tidak percaya.
“Seminggu yang lalu saat aku baru pulang dari lokasi syuting kami tidak sengaja bertemu di jalan.”jelas Lay begitu saja. “Dan aku rasa dia tidak mengenaliku sampai saat ini. Melihat dia memikirkan sesuatu karena kejadian malam itu, sepertinya aku harus meluruskan beberapa hal. Malam itu aku memang terluka, Lily. Tapi jangan pernah memikirkan sesuatu yang akan membuat dirimu takut. Aku hanya jatuh dari motorku saat menghindari seorang bocah yang mengejar bolanya ke tengah jalan.”lanjut Lay santai.
“Aku tidak pernah memikirkan apapun.”jawabku berusaha berbohong sebaik mungkin. Darimana dia tahu kalau aku memikirkan sesuatu yang membuat diriku sendiri ketakutan setengah mati?
Lay tersenyum. “Aku tahu kau berbohong, cantik.”
“Jangan ganggu dia, Lay. Dia berbeda dengan semua wanita yang bersamamu selama ini.”tegur Thunder, dan sesaat aku berani bersumpah kalau Thunder bersikap seperti kekasih yang sedang cemburu.
Lay melirik kanan dan kirinya yang tidak ada orang sebelum kembali ke Thunder. “Kau bicara denganku? Kau bilang ‘semua wanita yang bersamaku’? Aku sendirian malam ini Thunder.”
“Jangan bodoh. Kau tahu apa yang kumaksud.”
Lay menggeleng. “Aku tidak tahu, teman. Kau bicara seolah aku adalah seorang Don Juan. Aku tidak seperti itu. Aku hanya menikmati apa yang bisa mereka berikan padaku, dan aku tidak pernah meminta apapun pada mereka.”ujar Lay ringan. “Sudahlah. Kau harus segera duduk di mejamu. Acara akan segera dimulai. Sampai bertemu di pesta dansa.”lanjut Lay dan dengan sangat kusadari, dia sempat menatapku dengan aneh.
Aku menarik lengan Thunder agar bisa berbisik ke telinganya. “Siapa dia?”
“Tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menjelaskan ‘siapa’ dia sebenarnya. Aku pernah mendengarkan dia bernyanyi, dan suaranya sempurna. Belakangan aku baru tahu kalau beberapa lagu yang kunyanyikan adalah ciptaannya. Dan dia juga tidak jarang memproduseri sebuah cara. Tapi yang pasti dia orang yang tidak akan kau temui di kamera manapun. Dia tidak pernah tertangkap kamera.”
“Kau sudah lama kenal dengannya?”tanyaku lagi.
Kali ini Thunder yang menggeleng pelan. “Aku baru bertemu dengannya saat pembuatan video klipku yang baru dua minggu lalu. Dia datang sebagai produser. Dan setelah rekamannya selesai, dia kembali menghilang.”jelas Thunder pelan. “Sudahlah, lupakan saja dia. Kita harus bergegas masuk.”
—to be continued—






