Night of The Darkness (P1)

Posted: Mei 24, 2012 in Adult, EXO, Lay, Luhan

Cast :

  • Yullya Tri Utari as Lily Russell
  • Dara 2NE1 as Sandara Park
  • Zhang Yi Xing EXO M as Lay
  • Thunder MBLAQ as Thunder
  • Lu Han EXO M as Lu Han
  • Wu Yi Fan EXO M as Kris
  • Huang Zi Tao EXO M as Tao
  • Kim Joon Myun EXO K as Suho
  • Do Kyungsoo EXO K as D.O

Support Cast: EXO, MBLAQ, SHINEE,TVXQ

Genre: Fantasy

Rate: NC *gw masih bingung kategoriinnya kemana -,-*

 

—————————————————***——————————————————

PROLOG

Aku menatap langit malam musim dingin London yang terbentang luas di atasku saat ini. Selalu seperti ini. Kelam dengan sedikit bintang.

“Seandainya sekarang bukan musim dingin, toko pasti tidak akan ramai dan aku bisa pulang lebih cepat untuk menghangatkan tubuh di rumah.”gerutuku sepanjang jalan sambil memperhatikan orang-orang disekitarku yang sudah mulai sibuk menyiapkan persediaan bahan makanan di rumah kalau-kalau musim dingin kali ini cukup buruk dan menghambat kegiatan normal apapun.

BRUK

“Ups… Sorry.”bisikku pelan saat aku menabrak sesuatu yang kusadari_beberapa detik kemudian_adalah seorang pria ras Asia.

Mungkin dia dari kawasan Asia Timur. Hanya saja aku tidak bisa memastikan negara mana tepatnya. Memang tidak aneh ada banyak suku bangsa di London, yang aneh adalah kenyataan kalau malam ini aku menabrak salah satu dari bangsa pendatang itu saat perjalanan pulang.

Pria itu hanya tersenyum lalu mengambil kantong belanjaku yang terjatuh begitu menabraknya tadi. “Kau tidak terluka, Nona?”tanya pria itu lembut.

Ya Tuhan! Ada banyak sekali pria tampan yang sering datang ke toko hanya sekedar membeli permen karena ingin melihat Sandara_teman yang juga memiliki hak yang sama di tokoku_yang kebetulan bertubuh mungil dengan wajah luar biasa cantik_tapi pria ini bukan hanya tampan. Dia seakan diciptakan Tuhan untuk menggantikan Rafael, malaikat yang konon katanya malaikat paling tampan. Bibirnya benar-benar membuatku nyaris seperti remaja yang sedang jatuh cinta hingga tidak bisa mengalihkan perhatian ke tempat yang lain.

Pria itu meraih tanganku dan menggenggamkan pegangan kantong belanjaan padaku. “Lain kali, berhati-hatilah kalau berjalan, Nona. Dan berbahaya jalan sendirian di malam hari untuk wanita sepertimu.”ujarnya lalu melewatiku begitu saja.

Aku hanya terpaku diam. Apa maksudnya dengan wanita sepertiku? Dan sekarang baru jam 12 malam. Tidak pernah ada kata terlalu malam di kota seperti London yang memang tidak memiliki jam malam.

“Sudahlah, Lily. Lebih baik kau pulang sekarang sebelum jari-jarimu putus karena beku.”bisikku pada diriku sendiri lalu berlari-lari kecil sepanjang beberapa blok hingga sampai ke apartemen mungilku yang jauh dari kata mewah.

Aku berlari menaiki tangga menuju apartemenku di lantai dua. Begitu sampai aku langsung mencari kunci di dalam tas dan kemudian bergegas masuk. Tanpa membuka sepatu aku langsung menyalakan pemanas ruangan dan meletakkan semua belanjaanku di dapur. Saat itulah aku baru sadar kalau kantong belanjaanku terkena noda berwarna merah.

“Oke, sepertinya saus tomat yang kubeli tumpah saat kujatuhkan tadi.”gumamku pelan sambil membongkar belanjaanku dan mendapati kalau noda merah itu bukan saus tomatku karena botol saus tomatku sama sekali tidak pecah atau cacat.

“Darah…”bisikku pelan. “Ini darah pria tadi. Ya Tuhan! Dia terluka separah ini dan masih bisa tersenyum dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa mengeluarkan darah sebanyak ini?”

Ketakutan mulai merayapi hatiku. Bagaimana kalau ini bukan darahnya? Bagaimana kalau ini darah orang lain? Bagaimana kalau dia pembunuh? Dan ini darah korbannya, bukan darah pria itu? Bagaimana kalau aku ternyata telah melepaskan pembunuh begitu saja ke tengah keramaian London, bukannya menyerahkannya pada polisi?

“Apa yang harus aku lakukan?”

Tiba-tiba telpon rumahku berdering, ketakutanku sampai pada batas maksimum saat ini. Siapa yang menelpon selarut ini? Aku tidak punya banyak kenalan selain beberapa orang pekerjaku, dan aku juga jelas tidak punya keluarga. Jadi siapa yang menelponku selarut ini?

Aku hanya menatap telpon itu hingga deringnya berhenti dan mesin penjawab telponku berbunyi.

“Lily kau belum sampai? Semoga kau belum tertidur, ponselmu ketinggalan di laci meja kasir. Aku akan menunggu sampai Thunder menjemputku yang berarti hanya sampai jam 2. Kalau kau ingin mengambilnya, ambil sekarang atau besok saja.”

Itu suara Dara!

“Bodohnya aku.”gumamku pelan lalu segera mencuci tangan dan bergegas kembali ke toko untuk mengambil ponselku.

 

“Tidak biasanya kau sampai ketinggalan barang ini, Lily.”tegur Dara begitu melihatku melangkah memasuki toko.

Kulihat kalau Thunder sudah duduk di hadapannya dan kemudian tersenyum padaku. Aku selalu iri pada mereka. Bagaimana bisa mereka mendapatkan anugrah yang sangat berlebihan seperti ini? Wajah cantik, tubuh mungil, dan kulit mulus yang dimiliki Dara kuyakini akan sanggup membuat beberapa wanita rela membunuh dokter kulit hanya untuk mendapatkan apa yang Dara miliki sejak lahir. Wajah tak berdosa, suara bagus, dan tubuh tinggi yang dimiliki Thunder membuatnya sukses bekerja sebagai penyanyi dan dipuja wanita. Dan sebagai saudara, mereka telah membuat iri orangtua manapun di dunia ini. Untung saja aku tidak mengenal siapa orangtuaku.

“Thunder sudah tiba dan kau masih menungguku?”tanyaku begitu saja menghempaskan tubuhku ke kursi kosong di sebelah Thunder.

Dara merengut. Membuatnya jauh dari kata wanita berusia 28 tahun. “Kau selalu tidak pernah berterima kasih padaku.”gerutu wanita itu lalu menyerahkan ponselku. “Tapi kalau kau berterima kasih, mungkin aku yang akan dirawat karena terlalu shock mendengarnya. Karena aku sudah memberikan barang pada pemiliknya, sekarang aku mau pulang sebelum ada fans Thunder yang menghancurkan toko ini hanya untuk mengambil foto adikku yang tak berguna ini.”sambung Dara lalu segera bangkit.

“Sampai jumpa, Lily.”pamit Thunder ramah lalu mengecup pipiku sebelum mengikuti kakaknya keluar dari toko setelah memakai kembali topi dan kacamatanya.

Entah kenapa Dara memilih bekerja di toko barang harian seperti ini daripada menjadi artis seperti adiknya. Bahkan kalau Dara tidak bekerja, aku yakin kalau penghasilan Thunder lebih dari cukup untuk menghidupi selusin anak jalanan. Mereka memang sangat beruntung. Dan aku juga cukup beruntung karena bisa bersahabat dengan Dara walau usia kami terpaut 6 tahun dan berteman dengan Thunder yang lebih muda dariku setahun. Mereka berdua memperlakukanku dengan sangat baik.

Berhubung tidak ada lagi yang harus kulakukan, aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan istirahat. Semoga tidak ada kejadian aneh lagi di jalan kali ini, seperti menabrak orang atau mendapati kalau ada darah di kantong belanjaanku.

***

Sudah seminggu berlalu sejak insiden aku menabrak laki-laki berdarah itu. Tapi selain keanehan yang kutemui setelah pulang mengambil ponsel, aku sama sekali tidak menemukan keanehan apapun bahkan aku juga masih hidup sampai detik ini. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Tiga kali shift malam, tiga kali shift siang, dan satu hari libur. Walau itu adalah tokoku bersama Dara, aku ingin terlibat langsung setiap harinya.

Keanehan yang kukatakan adalah kantong belanjaku yang ada noda darah pria itu menghilang saat aku kembali ke rumah setelah mengambil ponselku di toko. Aku yakin kalau meletakkan kantong itu ke dalam tempat sampah. Tapi saat aku pulang, tidak ada kantong apapun di dalam tempat sampahku. Kantong itu lenyap begitu saja. Aku tidak berani berpikir kalau kantong itu diambil oleh sipemilik darah. Tidak. Karena kalau aku berpikir seperti itu artinya aku mengakui kalau pria itu masuk ke dalam apartemenku yang aku yakini sudah kukunci! Dan aku tidak mau memikirkannya karena aku akan ketakutan setengah mati saat memasuki rumahku karena aku tahu ada seorang pria diluar sana yang bisa keluar masuk rumahku tanpa meninggalkan jejak apapun.

TIN TIIINNN~~~

Suara klakson menyadarkanku dari semua pemikiran yang entah kenapa menggangguku hari ini. Aku mencari arah sumber suara klakson itu karena aku sudah berjalan di trotoar dan kenapa aku masih harus ditegur dengan suara klakson mobil???

Kulihat sebuah sedan sporty keluaran Audi terparkir manis beberapa langkah dariku. Seorang pria yang sangat kukenal keluar dari sedan biru itu dan tersenyum padaku. Ya Tuhan. Lihat dia! Bagaimana bisa dia tidak memakai topi atau kacamata yang biasa dipakainya untuk menyembunyikan jati dirinya? Kenapa dia muncul di siang bolong seperti ini di tengah keramaian London? Oh, maaf, bukan siang bolong, tapi sesore ini?

“Melamun sendirian, Lily?”tanya Thunder sambil menghampiriku tanpa memperdulikan kalau sekeliling kami sudah mulai membisikkan namanya.

“Apa yang kau lakukan disini, Thunder? Dimana topi dan kacamatamu? Dimana Dara?”tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

Kulihat Thunder memperhatikan kesekeliling kami, menyadari kalau dia menjadi pusat perhatian dan dengan sangat cepat dia menarik tanganku, mendorong tubuhku agar masuk ke dalam mobilnya sementara dia berputar ke kursi pengemudi dan beberapa detik kemudian kami sudah melaju di jalanan.

“Aku meralat pertanyaanku. Apa yang akan kau lakukan padaku?”

Lagi-lagi pemuda itu tersenyum. Dan sialnya, wajahnya memang wajah tidak bersalah. Entah malaikat mana yang menganugrahkan wajah tanpa dosa ini padanya. Yang pasti, tidak seorangpun wanita yang sanggup memarahinya kalau dia sudah tersenyum.

“Aku butuh pasangan malam ini dan Dara menolak dengan sangat tegas untuk menemaniku. Jadi karena aku tahu kalau kau juga akan menolak kalau aku bertanya, makanya aku menculikmu seperti ini.”jawab Thunder begitu saja.

Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. “Pasangan? Untuk apa?”

Thunder meliriknya takjub. “Kau tidak pernah menonton televisi, Lily? Yang benar saja? Malam ini ada acara music award. Dan aku tidak mungkin datang sendiri.”

“Kau ingin mengumpankanku pada media massa?”tanyaku tidak percaya. “Oh, tidak, Thunder. Aku tidak mau kehidupanku yang tenang ini jadi hancur karena menjadi pasanganmu malam ini.”

“Tapi aku sangat membutuhkanmu.”

“Aku tahu. Kalau aku bisa, aku pasti akan membantumu.”

“Kau bisa membantuku. Hanya kau yang bisa.”

“Tapi…”

“Hanya kau yang kuinginkan jadi pasanganku.”

“Aku ta…”aku sama sekali tidak melanjutkan ucapanku. “Apa yang kau katakan barusan?”

“Aku hanya menginginkanmu untuk jadi pasanganku. Aku tidak butuh orang lain. Selama ini aku tidak pernah menjadikan wanita manapun sebagai pasanganku untuk acara formal apapun. Hanya kau.”

Aku menggeleng cepat. “Aku lebih tua darimu.”

“Lalu kenapa? Apa urusannya? Aku tidak peduli tentang usia.”

“Aku bahkan lebih cocok jadi kakakmu.”

“Aku tidak pernah menganggapnya seperti itu. Usia kita hanya berbeda 1 tahun. Kau kira untuk apa aku selalu bersedia menjemput Dara saat yang kubutuhkan adalah istirahat lebih banyak karena semua jadwalku yang sangat padat? Itu semua kulakukan karena aku bisa melihatmu.”

“Cukup, Thunder. Kau pasti hanya bercanda. Kau mengatakan ini karena ingin aku menjadi pendampingmu malam ini.”

“Tidak juga. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Di acara itu ataupun tidak, aku tidak peduli.”

Aku memperhatikan laki-laki yang satu tahun lebih muda dariku ini. “Kau serius? Jadi kau tidak akan datang ke acara itu kalau aku tidak bersedia jadi pendampingmu?”

“Kalau kau tidak datang, untuk apa aku ada disana? Aku ingin bersama denganmu.”

“Kau tidak bisa seperti ini!”

“Kau bersedia?”

Aku terdiam. Mau tidak mau aku harus menemaninya. Dengan sangat pelan aku mengangguk enggan. Baik dia maupun kakaknya sangat ahli dalam membuatku mengatakan iya. Mereka sangat ahli memanipulasi perasaanku. Mereka tahu kalau aku tidak pernah suka menjadi ‘yang disalahkan’ sehingga aku cenderung mengalah agar mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, dalam batas-batas tertentu. Tapi aku tetap tidak bisa marah atau benci pada mereka.

 

Aku sama sekali tidak mengenal siapa wanita yang sedang berdiri di depan cermin ini. Gaun China dengan model leher turtleneck tanpa lengan berwarna merah lembut  membuatku terlihat sangat berbeda. Awalnya aku memang menyukai gaun ini karena motif naganya yang melintang dari leher bagian kanan hingga ke paha kiri. Tapi siapa sangka kalau tepat diujung ekor naga itu dimulailah belahan rok hingga ke mata kaki yang nyaris memamerkan seluruh pahaku. Dan aku kalah suara dengan pemilik butik dan Thunder yang memaksaku untuk mengenakan gaun ini.

Kami tiba tepat waktu di tempat acara begitu red carpet dilangsungkan. Dengan satu tangan menggandeng lengan Thunder, aku berusaha menebar senyum pada siapapun yang menegur Thunder sampai pria itu datang.

“Hallo, Thunder. Kau berhasil mencuri perhatian seluruh wartawan dan undangan malam ini dengan membawa wanita paling cantik disini.”ujar pria tampan dengan senyum mematikan yang kini berdiri di hadapanku ini.

Walaupun penampilannya cukup jauh berbeda, tapi aku tahu kalau pria ini adalah pria yang sama dengan yang kutabrak seminggu yang lalu. Minggu lalu dia mengenakan jaket kulit hitam dan celana kulit yang sangat membentuk tubuhnya. Tapi malam ini dia mengenakan stelan mewah berwarna putih dengan kemeja hitam. Aku tidak tahu harus takut atau malah terpesona padanya. Kalau sebelumnya aku sempat protes karena malaikat memberikan wajah tanpa dosa pada Thunder, maka kini aku akan memprotes kenapa malaikat mengizinkan makhluk lain berwajah layaknya malaikat?

“Hallo Lay. Dimana pasanganmu? Sepertinya kau sendirian malam ini?”balas Thunder sopan lalu bersalaman dengan pria yang dipanggilnya Lay itu.

Keringat dingin mulai menjalari punggungku saat kedua mata Lay menatap mataku. Dan kalau ada yang bertanya padaku, aku berani bersumpah kalau matanya berubah warna! Awalnya memang hitam, tapi selama beberapa detik tadi, matanya berwarna perak kehijauan. Kini bukan hanya bibirnya yang menarik perhatianku, tapi keseluruhan dirinya adalah magnet bagiku.

“Kali ini aku tidak bisa menemukan pendamping yang cocok. Apalagi setelah melihat pasanganmu malam ini, aku rasa tidak ada wanita yang bisa mengangkat harga diriku lebih tinggi darimu. Kau sukses mendapatkan perhatian dunia malam ini dengan membawa wanita cantik ini.”ujar Lay lembut lalu meraih tanganku dan mencium punggung tanganku cukup lama dari yang seharusnya. “Hallo, Miss?”

“Lily Russell.”jawab Thunder saat menyadari kalau aku sama sekali tidak bisa bersuara.

Jarinya… Untuk ukuran laki-laki, maka makhluk di hadapanku ini memiliki jari langsing dan panjang. Jari laki-laki paling indah yang pernah kulihat. Oke. Aku memilih untuk menghadapinya, siapapun pria ini. Dan kalau dia memang pembunuh, aku tidak takut. Selain kenyataan kalau aku cukup bisa ilmu bela diri, tempat ini juga sangat ramai. Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan kalau dia menginginkan aku lari ketakutan malam ini.

“Hallo, Ms. Russell. Kita bertemu lagi.”ulang Lay ramah lalu tersenyum padaku.

Aku berusaha membalas senyumnya. “Hallo, Mr. Lay, atau aku boleh memanggilmu Lay saja?”

“Lay saja, please. Belum pernah ada orang yang memanggilku Mr. Lay, karena Lay adalah nama panggilanku.” Dan lagi-lagi pria itu memberikan senyum 1000 watt-nya padaku.

“Aku rasa malam itu ada sesuatu yang terjadi bukan? Kau terluka.”ujarku mulai memancingnya.

Thunder melihatku dan Lay bergantian. “Kalian sudah pernah bertemu?”tanya Thunder tidak percaya.

“Seminggu yang lalu saat aku baru pulang dari lokasi syuting kami tidak sengaja bertemu di jalan.”jelas Lay begitu saja. “Dan aku rasa dia tidak mengenaliku sampai saat ini. Melihat dia memikirkan sesuatu karena kejadian malam itu, sepertinya aku harus meluruskan beberapa hal. Malam itu aku memang terluka, Lily. Tapi jangan pernah memikirkan sesuatu yang akan membuat dirimu takut. Aku hanya jatuh dari motorku saat menghindari seorang bocah yang mengejar bolanya ke tengah jalan.”lanjut Lay santai.

“Aku tidak pernah memikirkan apapun.”jawabku berusaha berbohong sebaik mungkin. Darimana dia tahu kalau aku memikirkan sesuatu yang membuat diriku sendiri ketakutan setengah mati?

Lay tersenyum. “Aku tahu kau berbohong, cantik.”

“Jangan ganggu dia, Lay. Dia berbeda dengan semua wanita yang bersamamu selama ini.”tegur Thunder, dan sesaat aku berani bersumpah kalau Thunder bersikap seperti kekasih yang sedang cemburu.

Lay melirik kanan dan kirinya yang tidak ada orang sebelum kembali ke Thunder. “Kau bicara denganku? Kau bilang ‘semua wanita yang bersamaku’? Aku sendirian malam ini Thunder.”

“Jangan bodoh. Kau tahu apa yang kumaksud.”

Lay menggeleng. “Aku tidak tahu, teman. Kau bicara seolah aku adalah seorang Don Juan. Aku tidak seperti itu. Aku hanya menikmati apa yang bisa mereka berikan padaku, dan aku tidak pernah meminta apapun pada mereka.”ujar Lay ringan. “Sudahlah. Kau harus segera duduk di mejamu. Acara akan segera dimulai. Sampai bertemu di pesta dansa.”lanjut Lay dan dengan sangat kusadari, dia sempat menatapku dengan aneh.

Aku menarik lengan Thunder agar bisa berbisik ke telinganya. “Siapa dia?”

“Tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menjelaskan ‘siapa’ dia sebenarnya. Aku pernah mendengarkan dia bernyanyi, dan suaranya sempurna. Belakangan aku baru tahu kalau beberapa lagu yang kunyanyikan adalah ciptaannya. Dan dia juga tidak jarang memproduseri sebuah cara. Tapi yang pasti dia orang yang tidak akan kau temui di kamera manapun. Dia tidak pernah tertangkap kamera.”

“Kau sudah lama kenal dengannya?”tanyaku lagi.

Kali ini Thunder yang menggeleng pelan. “Aku baru bertemu dengannya saat pembuatan video klipku yang baru dua minggu lalu. Dia datang sebagai produser. Dan setelah rekamannya selesai, dia kembali menghilang.”jelas Thunder pelan. “Sudahlah, lupakan saja dia. Kita harus bergegas masuk.”

—to be continued—

 

*Ji Yeon POV*

Aku terduduk di tempat tidur. Menunduk menatap lantai, seolah aku sudah tidak sanggup lagi menatap dunia. Aku sudah melakukannya. Dengan begini Sungmin benar-benar akan membenciku. Bersama denganku hanya akan membuatnya terluka. Aku bahkan mungkin sudah membuatnya membenciku dengan mengatakan hal itu. Ya Tuhan! Bagaimana bisa aku mengatakan kalau ibunya membuang Sungmin?

“Lalu kenapa airmata ini keluar? Bukankah aku yang ingin menjauh darinya?”bisikku pelan saat airmata terus mengalir keluar dari kedua mataku. “Mianhae, Eve. Eomma sekali lagi harus melukai appa-mu. Tapi eomma berjanji ini yang terakhir. Setelah ini, appa-mu tidak akan bersedia menemui eomma lagi. Eomma mencintainya, sayang. Selalu mencintainya. Tapi dia akan lebih bahagia kalau hidup tanpa eomma.”

“Aku tidak pernah butuh bantuan orang lain untuk meraih kebahagiaanku sendiri.”

Dua kali dalam waktu kurang dari 12 jam suara itu kembali menggelegar bagaikan petir dalam kepalaku. Aku langsung menoleh ke arah pintu yang tadi tertutup. Kini Sungmin sudah berdiri disana dengan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat. Aku pernah melihat raut wajahnya saat bahagia ataupun sedih. Tapi beginikah raut wajahnya saat terluka? Aku-kah yang menyebabkan semua ini?

“Apa yang kau lakukan disini?!”seruku begitu saja dan tanpa sadar mengelap airmata di wajahku.

Sungmin berjalan mendekatiku dan berlutut tepat di depanku. Kedua tangannya menggenggam tanganku. “Kenapa kau harus berbohong, Ji Yeon? Kenapa kau melukai dirimu sendiri? Aku sudah tahu semua cerita itu. Aku sudah tahu semua kebenarannya. Sehari setelah bertemu denganmu di Hikari House aku bertemu dengan Hyelim. Hyelim kan ibu dari anak laki-laki yang mengigit tanganmu itu? Dia yang memberikan alamatmu dan memberikan informasi apapun yang dia tahu. Aku tahu kalau satu-satunya orang yang mungkin tahu semua yang terjadi padamu adalah Hankyung, dan aku mencarinya. Aku bersumpah padanya, kalau aku tidak akan melukaimu, aku mencintaimu dulu dan sampai sekarang. Bahkan entah sampai kapan.

Hankyung bersedia menceritakan segalanya. Kau tahu apa yang kurasakan saat itu? Aku merasa menjadi orang paling bodoh. Kau berkorban segalanya untukku sementara aku? Langsung menghilang demi menyelamatkan reputasi keluargaku. Sejak saat itu aku bersumpah kalau aku harus mendengarnya sendiri darimu. Dan apa yang kudapat? Kau berbohong padaku. Aku memang terkejut saat mengetahui kalau aku memiliki seorang anak, saat itu aku mungkin belum siap, tapi bukan berarti aku tidak menginginkannya. Demi Tuhan, kau adalah satu-satunya orang yang membuatku serius ingin mundur dari dunia artis sebelum masalah itu muncul.”

“Jangan menghiburku, Sungmin.”

Sungmin melepaskan satu tangannya dan menyentuh wajahku, memaksaku menatap matanya. “Tatap aku, chagi. Aku tidak berusaha menghiburmu. Aku hanya sedang mengungkapkan apa yang kurasakan selama ini. Dua kali aku melihatmu menangis karena aku. Dan asal kau tahu, walau seluruh keluargaku memberikan bukti bahwa kau yang menulis berita itu, aku tetap menunggumu memberikan penjelasan. Karena aku yakin kalau kau punya alasan untuk melakukannya.”

Aku menggeleng pelan. “Ini pasti mimpi. 10 tahun kau memiliki kesempatan mencariku, begitu juga denganku. Tapi kita tidak melakukannya.”

“Aku melakukannya, Ji Yeon-ah. Setelah berita itu tersebar, aku langsung kembali kerumah. Berjanji mengambil alih perusahaan selama ahjussi bersedia membantuku. Ada dua hal yang kuminta saat itu darinya. Hentikan berita itu tersebar dan jangan pernah mengganggu hidupmu. Ahjussi, Ji Yeon, akan menghancurkan siapapun yang membuat anggota keluarganya terlibat skandal. Dia pernah melakukannya dulu, saat aku baru menjadi artis. Dan aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama, bahkan pada saat itu aku tetap mempercayaimu. Tiga tahun berikutnya aku belajar menjalankan perusahaan bersama ahjussi di Seoul. Dan 7 tahun kemudian aku berkeliling dunia untuk melihat sendiri cabang perusahaan di negara lain dan tidak pernah kembali ke Seoul. Selama 7 tahun itulah aku tidak mencarimu karena aku akan mencarimu sendiri, saat aku berada di Seoul.

Aku sudah mengatakan pada Hyu Rie ingin kembali bersamamu. Dia marah, Ji Yeon, karena apa yang kau lakukan dulu, tapi sekarang aku tidak peduli. Selama 36 tahun aku mengenal Hyu Rie, kami tidak pernah bertengkar, Ji Yeon. Kami saling mengalah, tapi tidak untuk masalah kali ini. Aku lebih baik mati dalam kerinduanku padamu, daripada aku harus hidup menjemukan dan putus asa karena tidak bisa bersamamu.”

“Kenapa kau begitu baik? Kenapa kau tidak marah? Kenapa kau tidak membenciku?”

“Aku tidak bisa, Ji Yeon. Aku tidak bisa berbuat jahat pada orang yang kucintai. Aku tidak bisa marah pada orang yang memiliki alasan kenapa dia berbuat kesalahan. Dan aku akan menjadi orang brengsek kalau aku sampai membenci wanita yang kucintai seumur hidupku.”

“Kau melalui 10 tahun ini tanpaku. Kau pasti bisa menjalaninya lagi.”

“Sendiri? Saat aku tahu kau terluka? Sendiri? Saat aku tahu cinta dalam hati ini tidak pernah padam? Sendiri? Saat aku tahu kau juga mencintaiku? Tidak, Ji Yeon. Aku sudah cukup melakukan kesalahan karena membuang waktu selama 10 tahun dengan pekerjaan sialan itu. Sekarang aku tidak ingin membuang waktu sedikit apapun yang bisa kuhabiskan bersamamu.

Selama ini hal yang paling kuinginkan adalah memiliki keberanian. Keberanian untuk menunggu datangnya fajar dan menyambut hari baru, keberanian untuk memahami perasaanku… Aku butuh keberanian untuk mempercayai seseorang, Ji Yeon. Dan bersamamu, aku memilikinya.”

“Aku ingin sekali mencarimu saat itu. Aku tidak tahu kalau Shindong mengambil semua tulisan dalam file-ku. Awalnya aku memang bekerja untuknya, tapi semakin aku mengenalmu, semakin aku sadar kalau aku mencintaimu. Aku tidak lagi menulis itu semua sebagai pekerjaan, tapi aku melakukannya karena aku suka menuliskan kisah hidupmu sebagai bagian dari hidupku. Aku mencarimu, untuk minta maaf. Tapi aku tidak bisa. Kecelakaan itu membuatku dirawat seminggu penuh di rumah sakit. Seakan tahu kalau aku akan berpisah denganmu, Tuhan tidak mengambil janinku. Nyawa kecil itu tetap bertahan di rahimku bahkan setelah kecelakaan itu.

Begitu keluar dari rumah sakit aku langsung mencarimu, tapi kau sudah menghilang. Berbulan-bulan aku mencarimu, tapi kau tetap tidak kutemukan. Kehamilan membuatku cepat lelah hingga aku memutuskan untuk beristirahat di China bersama Saemin dan baru kembali setelah Eve lahir. Tapi Tuhan menghukumku karena berhenti mencarimu. Eve lahir dengan kelainan jantung. Kau boleh menyalahkanku atas keadaan itu, aku terinfeksi virus di China pada awal-awal kehamilanku yang menurut dokter pengobatannya mungkin akan mengganggu proses pembentukan organ. Cintaku padamu dan pada Eve membuatku tetap ingin melahirkannya apapun kondisi anak itu nantinya. Eve lahir dengan mata dan rambut yang sangat mirip denganmu. Dia cantik, sangat cantik. Alasan kenapa aku memberinya nama Eve Lee adalah karena dia anakmu, dia berhak atas nama itu dan dia lahir saat natal. Selama tiga tahun dia hidup, aku benar-benar bahagia walau Eve harus keluar masuk rumah sakit untuk menjalani operasi jantung. Satu-satunya hal yang membuatku sedih adalah menyadari kalau tubuh mungil itu harus berjuang untuk hidup dengan menanggung beban operasi sementara aku tidak bisa melakukan apapun untuknya selain menangis setiap malam.”ujarku begitu saja dengan airmata mengalir deras di pipiku.

Entah sejak kapan Sungmin duduk di sebelahku dan memelukku erat. Mendekap dan membuai tubuhku seakan aku seorang bayi yang butuh kasih sayang. “Seandainya saat itu aku ada disisimu, kau tidak perlu melalui hari-hari itu seorang diri.”bisik Sungmin penuh penyesalan.

Aku mendongak menatapnya. “Jangan menyesal. Aku bahagia saat itu. Walau kau tidak ada disisiku, tapi bukti cinta kita ada bersamaku. Eve nyata, Sungmin.”

“Ssstt… Aku tahu. Melihat banyaknya foto Eve di rumahmu, aku sudah menduga kalau kau sangat menyayangi gadis cilik dalam foto itu.”bisik Sungmin lagi. “Sekarang, biarkan aku memelukmu seperti ini.”

***

Hal itu kembali terulang. Selama di villa, aku dan Sungmin benar-benar bahagia. Bagi kami saat itu yang terpenting adalah apa yang bisa kami berikan untuk saling mencintai satu sama lain. Tapi terkadang, pikiran itu merasuk kedalam benakku dan membuatku cemas. Bagaimana kalau bukan hanya kebahagiaan ini saja yang berulang tapi juga perpisahan itu? Bagaimana kalau sesampainya di Seoul kami tetap akan berpisah dan saling menyakiti lagi?

“Apa yang sedang kau pikirkan, chagi?”tanya Sungmin saat melihatku melamun ayunan halaman belakang villa.

Aku menatap namja itu. Beberapa hari ini dia sangat baik padaku. Memberikanku kasih sayang yang selama ini hanya bisa aku mimpikan. Aku menarik napas dalam. Setelah malam pertama disini, aku bersumpah akan membicarakan segala yang kupikirkan pada Sungmin. Mencari pemecahannya bersama.

“Aku hanya berpikir kalau ini semua seperti deja vu. Bagaimana kalau setelah kita sampai di Seoul, kita kembali berpisah?”tanyaku pelan.

Sungmin menyodorkan sekaleng softdrink dan kemudian menarikku berdiri sementara dia duduk di ayunan lalu memangkuku. “Aku senang kau memberitahukan apa yang kau pikirkan sejak kita disini. Tidak ada rahasia, bukan? Tapi aku tidak suka kau memikirkan kemungkinan itu. Kita sudah berjanji akan tetap bersama apapun yang terjadi. Sekarang, aku akan selalu disisimu, saat kau tertawa ataupun menangis.

Aku benar-benar menyesal tidak pernah sekalipun melihat dan menyentuh anak kita, tidak pernah bermain dengannya, tidak pernah mendengar suaranya, tidak pernah membelikan pakaian ataupun mainan untuknya. Tapi aku bahagia mengetahui selama Eve hidup, kau memberikannya kasih sayang yang sangat besar.”

Aku memeluk Sungmin erat. Malam itu saat aku menangis dipelukannya, aku sadar, Sungmin juga menangis. Namja yang kucintai menangis karena tidak pernah mengetahui apapun tentang putrinya. Dan sekarang, kata-kata yang diucapkannya malam itu terucap kembali di bibirnya. Kini aku mengerti kenapa Sungmin berkata tidak ingin melihatku menangis. Hatiku hancur saat melihat airmata di wajahnya. Sungmin sama sekali tidak malu menunjukkan emosinya, dan itu yang membuatku semakin mencintai namja ini.

 

Seminggu kemudian, kami kembali ke Seoul dan langsung menuju ke kediaman Lee. Lagi-lagi menghadapi Hyu Rie lah bagian paling sulit saat kau ingin menjalin hubungan dengan sepupu kesayangannya. Bahkan Lee Soo Man menerimaku dengan tangan terbuka dengan alasan kalau aku jauh lebih baik daripada pasangan kencan Sungmin sebelumnya.

“Aku tidak peduli.”ujar Hyu Rie eonnie saat Sungmin mengatakan akan menikah denganku.

“Kami akan menjelaskannya, tapi akan butuh waktu lebih dari semalam untuk menceritakan segalanya.”bujuk Sungmin lagi. “Kau tahu kalau aku tidak akan bahagia kalau kau tidak merestui kami.”

“Aku akan mendukung apapun yang kau lakukan, Sungmin. Tapi… Yakinkah kau dengan pilihanmu? Kau sudah pernah terluka karena dia.”tukas Hyu Rie eonnie.

“Aku tidak ingin kita bertengkar lagi, noona!”tukas Sungmin dengan suara mulai meninggi, dan aku tahu kalau dia mulai kesal karena pembicaraan ini semakin berlarut-larut tanpa hasil yang pasti.

“Aku tahu aku pernah menyia-nyiakan kesempatan itu, eonnie. Tapi aku bersumpah demi Eve, aku tidak akan meninggalkan Sungmin apapun yang terjadi.”

“Ceritakan semuanya, anakku. Aku yakin kalau putriku yang bodoh ini akan menyesal dengan kekeraskepalaannya sekarang.”sela Soo Man tenang lalu menyesap kopi hitam pahit miliknya.

“Kenapa kau bisa seyakin itu appa?”tanya Hyu Rie dingin.

“Karena setidaknya ahjussi lebih berpikiran terbuka saat aku menceritakan segalanya daripada kau, noona!”seru Sungmin benar-benar marah kali ini.

Aku menyentuh tangan Sungmin dan menggenggamnya. “Kau tidak boleh marah, Sungmin. Hyu Rie eonnie sangat menyayangimu.”

“Aku juga menyayanginya. Tapi tidakkah dia bisa berpikiran terbuka sebentar saja dan memandang masalah ini dari sudut lain dan tanpa emosi?”balas Sungmin berusaha terdengar lembut walau kata-katanya jelas menunjukkan kalau dia masih emosi.

“Kita akan mencobanya bukan? Itu yang kau katakan sebelum kita kesini.”

Sungmin mengangguk pelan lalu menarik napas dalam. “Ya. Ceritakanlah semuanya, Ji Yeon. Aku ada disini bersamamu. Dan kalau noona-ku yang bodoh dan pemarah itu tetap tidak menerimamu, aku tidak peduli. Kita bisa pergi dari sini dan pindah ke suatu tempat berdua saja.”putus Sungmin cepat.

 

Hampir dua jam aku menceritakan kembali segala yang kualami pada semua orang yang ada di ruangan itu. Dan begitu aku selesai bercerita, Hyu Rie melesat ke arahku dan memelukku erat. “Aku tidak pernah benar-benar membencimu. Aku hanya tidak suka kalau Sungmin terluka lagi apapun alasannya. Tapi apa yang kau alami selama ini sudah cukup, Ji Yeon. Kau berhak mendapatkan kebahagiaan. Joesonghamnida…”bisik Hyu Rie sambil terisak saat aku sudah bisa menahan airmataku agar tidak jatuh. “Dan aku bersumpah akan membalas apa yang Shin Dong Hee lakukan pada kalian. Dulu dia pernah membuat skandal juga tentang Sungmin dan sekarang, dia menghancurkan hidup kalian!”geram Hyu Rie setelah melepaskan pelukannya padaku.

“Jadi, kapan kalian akan menikah?”tanya Soo Man cepat.

Aku dan Sungmin saling berpandangan. “Menikah?”

“Bukankah tadi kau yang mengatakan akan menikah?”tanya Soo Man balik. “Kalian harus cepat mengurus semuanya. Aku rasa menikah saat musim semi seperti ini akan sangat menyenangkan. Kita akan mengadakan outdoor party yang sangat besar dan mengundang banyak orang.”jelas Soo Man terlihat antusias.

Sungmin yang tadinya begitu marah dengan sikap Hyu Rie kini hanya tertawa melihat reaksiku dan kemudian menarikku ke dalam pelukannya. “Kalau kau menginginkan gambaran atas apa yang bisa dilakukan ahjussi, maka ingat ini. Pembaptisan sikembar dilakukan dengan cara yang sederhana menurut ahjussi dan acara itu dihadiri oleh hampir seribu orang dengan menyewa satu gereja.”bisiknya lembut.

***

*Author POV*

Minggu-minggu berikutnya benar-benar menjadi minggu yang melelahkan bagi seluruh keluarga Lee, khususnya Sungmin dan Ji Yeon. Saat Sungmin dan Ji Yeon mengunjungi Hankyung di apartemennya, Hankyung hanya berpesan agar Sungmin jangan pernah meninggalkan Ji Yeon lagi apapun alasannya. Adik sepupunya itu sudah mengalami banyak penderitaan di usianya yang muda dan dia berhak mendapatkan kebahagiaan di sepanjang sisa usianya.

Setelah dari rumah Hankyung, pasangan itu pergi mengunjungi makam anak mereka. Berdua mereka membersihkan makam itu.

“Eve… Ini appa-mu sayang. Eomma yakin kalau kau pasti akan mencintai appa-mu seperti eomma mencintainya.”bisik Ji Yeon sambil menatap ukiran nama yang ada di batu pualam hitam di makam itu.

“Appa berjanji tidak akan meninggalkan eomma-mu lagi. Appa berjanji akan membahagiakannya bahkan sampai setelah maut memisahkan kami. Maaf kalau selama ini appa tidak pernah tahu apapun tentangmu, anakku. Maaf kalau selama ini kau hidup tanpa seorang ayah disisimu. Tapi percayalah, kami mencintaimu lebih dari yang kau pikirkan. Istirahatlah sayang, kau selalu memiliki tempat dalam hati dan kehidupan kami.”ucap Sungmin lembut dan tanpa sadar, sekali lagi, Sungmin menangis untuk putrinya.

Kesibukan Ji Yeon dan Sungmin tidak selesai sampai disitu. Mereka juga mengunjungi makan Saemin di China untuk meminta doa restu. Belum lagi mengurus gaun pesta dan keperluan lainnya membuat pasangan itu benar-benar menguras tenaga. Tapi bantuan dari Lee Soo Man, Hyu Rie, Siwon, dan Marie membuat segalanya lancar.

Bukan Hyu Rie yang akhirnya membuat Shin Dong Hee menerima akibat atas semua perbuatannya, tapi Sungmin. Selain mengakuisisi berbagai jaringan hotel, Sungmin juga mengambil alih percetakan milik Shin Dong Hee dan melempar pria itu ke jalanan tanpa rekomendasi pekerjaan. Sungmin juga membuat beberapa pihak bank mem-blacklist Shin Dong dari daftar nasabah maupun peminjam. Sungmin mungkin bukan orang yang mudah meluapkan emosinya dengan kemarahan, tapi jangan pernah membuatnya benar-benar marah, karena itulah yang diterima Shindong. Menjadi pengangguran tanpa rumah dan rekomendari pekerjaan serta masuk dalam daftar hitam peminjam.

Lee Soo Man juga membuktikan ucapannya. Kalau selama ini Sungmin berusaha menghindari publikasi apapun dengan menghindari tampil di depan media massa, maka kali ini Lee Soo Man mengundang hampir seluruh media untuk meliput pernikahan keponakannya. Pesta yang diadakan ini memang sedikit lebih mewah daripada pernikahan Hyu Rie, tapi itu tidak membuat Hyu Rie iri, karena dia sendiri turut ambil bagian dalam memeriahkan pesta pernikahan Sungmin. Lebih dari 5000 undangan disebar di Korea, belum lagi undangan untuk para klien mereka di luar negeri.

Sehari setelah pesta resepsi itu, Ji Yeon dan Sungmin kembali mengunjungi makam Eve, kali ini mereka pergi bersama anggota keluarga Lee yang lainnya sebelum Sungmin dan Ji Yeon berangkat untuk bulan madu ke Indonesia.

“Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walau mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin dicintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya. Dan kepada mereka yang mempunyai keyakinan dan keberanian untuk membangun kembali sebuah kepercayaan.”ujar Soo Man saat mengantar kepergian Sungmin di Incheon.

Dan setahun kemudian tepat di hari natal, seorang bayi perempuan cantik lahir dalam keadaan sehat. Bayi itu bernama Evelyn Lee.

=FIN=

 

Lagi-lagi aku mendapat kejutan keesokan harinya. Kali ini bukan Sungmin yang muncul di tempat praktekku tapi Marie. Aku menyuruh Jung Ah untuk mengantar Marie ke ruanganku. Dengan Marie setidaknya aku tidak perlu merasa terintimidasi di ruanganku sendiri.

“Sudah 10 tahun dan kau terlihat semakin dewasa, Ji Yeon-ah.”ujar Marie setelah kami berpelukan sejenak.

“Kau bahkan tidak terlihat bertambah tua, Marie. Ada masalah apa kau mencariku?”tanyaku berusaha terdengar tenang.

Marie tersenyum. “Mengunjungi teman lama tidak ada salahnya bukan? Selama ini kau seperti lenyap di telan bumi, Ji Yeon. Tidak ada yang tahu kemana kau pergi.”jawab Marie ringan.

Tentu saja, dua tahun aku menghabiskan waktu di China sebelum kembali kesini. Kalian tentu tidak akan mungkin terus mencariku selama dua tahun, bukan? Kalian tidak mungkin benar-benar perhatian padaku seperti itu.

“Jadi, apa Sungmin yang memberitahumu aku ada disini?”

Marie menggeleng pelan. “Tidak secara langsung. Si kembar yang mengatakannya. Mereka bilang kalau Hyu Rie dan Sungmin sempat ribut karena seseorang dan itu kau. Padahal menurut mereka Sungmin dan Hyu Rie tidak pernah bertengkar sebelumnya, apalagi kali ini Sungmin baru kembali dari luar negeri.”

“Dan kau mencari alamatku sendiri?”

“Tidak sepenuhnya benar, Ji Yeon. Si kembar adalah anak-anak yang cerdas. Mereka mencari tahu tentangmu. Dan mereka meminta Siwon melakukannya. Dan disinilah aku, atas pemintaan si kembar datang menemuimu.”

“Si kembar yang kau maksud apakah Yui dan Yuki?”

Marie mengangguk pelan. “Aku ingin sekali mendengar cerita tentang apa yang kau lakukan selama 10 tahun ini. Tapi aku lebih ingin mendengar kenapa kau dan Sungmin bisa jadi seperti ini? Siapapun tahu kalau kalian saling mencintai.”

“Tidak saat ini. Setidaknya apa yang kurasakan pada Sungmin tidak lagi sama seperti dulu.”tukasku cepat.

“Itukah alasan kenapa kalian berpisah dengan cara seperti itu? Bahkan tanpa kata perpisahan sama sekali? Tapi sepertinya Sungmin sama sekali tidak tahu tentang apa yang kau rasakan. Karena dia berpikir kau masih menyukainya sampai saat ini.”

“Dia tidak perlu tahu. Bagiku kalau aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada seseorang, aku bisa kapan saja meninggalkannya.”

“Jinjja? Benarkah itu yang kau rasakan?”

“Tentu saja. Kenapa kau bisa berpikir kalau bukan itu yang aku rasakan?”

“Karena kau berbohong, Ji Yeon.”

Suara itu bagaikan petir dalam kepalaku. Sungmin berdiri di ambang pintu ruang kerjaku. “Apa yang kau lakukan disana? Siapa yang mengizinkanmu naik?”

Seakan tidak mendengar suaraku, Sungmin melangkah masuk dengan mantab. “Mianhae, Marie. Aku harus bicara berdua dengan Ji Yeon. Aku akan memastikan kalau kalian bisa bicara berdua lain waktu.”ujar Sungmin dan tanpa mengatakan apapun lagi menarik tanganku agar mengikutinya keluar. Dan aku sempat melihat Marie melambaikan tangannya sambil tersenyum. Apa-apa’an mereka!

Aku memberontak sepanjang jalan keluar tapi sama sekali tidak berhasil. “Apa yang kau lakukan! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!”teriakku saat Sungmin mendorongku masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu sebelum menguncinya otomatis dengan kunci di tangannya.

Kunci pintu baru terbuka saat Sungmin masuk, saat itulah aku mencoba untuk keluar tapi tangan Sungmin mencengkram lenganku. “Jangan coba-coba, Ji Yeon. Jangan mencoba lari lagi dariku.”geramnya dan dengan satu kali tarikan dia berhasil membuatku kembali duduk.

“Aku sudah mengatakan agar kau menelponku secepat yang kau bisa dan kalau dalam 24 jam kau tidak menelponku, aku yang akan mencarimu. Apa yeoja sialan itu tidak mengatakannya?”

“Dia mengatakannya dengan lengkap persis seperti apa yang kau sampai sekarang. Dan jangan menyebut Jung Ah sialan!”

“Resepsionis seperti apa yang berusaha merayu kekasih atasannya?”

“Kau bukan kekasihku!”

“Kita lihat saja.”ucapnya terdengar begitu yakin.

“Kemana kita sebenarnya?”tanyaku saat mobil terus melaju menuju arah bandara.

“Ke tempat dimana kau tidak akan bisa lari lagi dariku sampai kau menjelaskan semuanya. Kalau itu artinya aku harus menerbangkanmu ke luar negeri, aku akan melakukannya.”

Apa-apa’an ini? Dia akan membawaku ke luar negeri? “Kau tidak mungkin bisa melakukannya. Passport dan segala keperluanku ada di rumah.”

Sungmin hanya menggerakkan kepalanya sedikit dan aku mengikuti arah gerakannya. Di kursi belakang berserakan passport dan tas kecil yang selalu kusiapkan untuk bepergian kapan saja.

“Bagaimana mungkin kau bisa mengambilnya?”tanyaku tidak percaya setelah memastikan kalau passport itu memang milikku. “Jangan katakan kalau kau memaksa masuk rumahku.”

“Tentu saja aku tidak melakukannya. Kesalahan terbesarmu adalah kau tinggal di apartemen yang berada dibawah nama L2, chagi. Dan kesalahanku adalah tidak mencarimu sejak dulu di semua apartemen yang dimiliki L2.

“Itu tidak mungkin! Aku sudah memastikan kalau bangunan itu tidak berada dibawah kepemilikan L2.”

“Ah, aku lupa mengatakannya. Sejak aku mengambil alih L2, namanya sudah bukan L2 lagi. Mungkin kau akan mengenal nama ini, Starlight Co.”

Dan Sungmin benar. Aku mengenal nama itu! Perusahaan besar itu kini sekarang sedang berusaha mengakuisisi beberapa hotel dan jaringan lainnya. Siapa sangka kalau perusahaan yang baru saja diberitakan itu sebenarnya adalah perusahaan lama yang mengganti namanya dibawah kepemimpinan Sungmin?

 

*Author POV*

Sementara itu di kediaman keluarga Lee, suasana hati Hyu Rie sedang berada dalam kondisi yang sangat buruk. Hyu Rie sebenarnya tidak terlalu membenci Ji Yeon, tapi kenyataan kalau Ji Yeon pernah membuat Sungmin terluka karena pengkhianatannya itulah yang membuat Hyu Rie tidak ingin Sungmin terluka lagi kalau dia kembali bertemu dengan Ji Yeon. Bagi Hyu Rie, semua luka yang diterima Sungmin saat kecil sudah lebih dari cukup. Hyu Rie sudah sejak awal tahu kalau Sungmin sangat mencintai Ji Yeon, mungkin Ji Yeon adalah satu-satunya yeoja yang dicintai Sungmin seperti itu.

“Kalau dia memang masih menyukai yeoja itu, biarkan saja. Kenapa kau harus gelisah seperti itu?”tanya Soo Man sambil memperhatikan anak perempuannya yang sejak Sungmin pergi beberapa jam lalu memilih untuk mengomel sepanjang hari.

“Kau tidak tahu apa-apa, Appa!”tukas Hyu Rie kesal.

“Apa yang aku tidak tahu, Hyu Rie? Bahwa yeoja itu yang dulu tinggal bersama Sungmin? Bahwa yeoja itu juga pernah menjalin hubungan dengan Sungmin? Bahwa yeoja itulah yang membongkar cerita kehidupan Sungmin?”tanya Soo Man cepat. “Aku mungkin sudah tidak memiliki kekuasaan seperti dulu, anakku. Tapi aku tidak akan pernah ketinggalan berita tentang keluargaku.”

“Bagaimana kalau selama ini dia tidak mencintai Sungmin dan hanya ingin mengambil keuntungan saja, Appa? Sungmin akan terluka.”

“Sungmin adalah pria dewasa berusia hampir 36 tahun saat ini, Hyu Rie. Dia tidak lagi membutuhkan perlindunganmu dengan seluruh kekuasaan yang dia miliki di tangannya saat ini.”

Hyu Rie terdiam. Dia selalu melupakan hal itu. Baginya, Sungmin akan selalu menjadi adik sepupu yang membutuhkan perlindungannya, bukan seorang CEO sukses berusia 36 tahun dengan kemampuan menggerakkan perekenomian Asia.

“Apa aku sudah berlebihan, Appa?”tanya Hyu Rie lalu menghempaskan tubuh langsingnya di sebelah ayahnya.

Soo Man menggeleng lalu menyentuh tangan anak perempuannya. “Tidak. Keluarga kita memang cenderung emosional saat menghadapi krisis. Itu sudah menjadi ciri keluarga kita, sayang. Dan itulah kenapa aku selalu mengatakan kalau Sungmin hanya memiliki sedikit sifat keluarga kita. Dia cenderung bertindak cepat tanpa memikirkan akibat nantinya dan tidak terlalu emosional seperti kita.”

Hyu Rie memejamkan matanya sebentar. “Aku akan memperhatikan mereka. Mungkin memberi mereka kesempatan lagi, dan kalau Ji Yeon melukai Sungmin lagi, aku bersumpah akan menghancurkannya.”

“Seandainya kau tahu kebenarannya…”bisik Soo Man sangat pelan.

 

Ji Yeon terbangun saat merasakan seseorang menyentuh wajahnya. Tangan itu membelai wajahnya dengan lembut dan Ji Yeon menikmatinya. Dengan perlahan Ji Yeon membuka mata. Saat menyadari siapa si pemilik tangan, Ji Yeon bangkit dengan sangat cepat. Menjauhkan dirinya dari si pemilik tangan. “Apa yang kau lakukan? Dimana aku?”tanya Ji Yeon cepat sambil memperhatikan keadaan disekitarnya.

Dan tiba-tiba saja kesadaran akan dimana dia berada sekarang menusuk hatinya. Ji Yeon dapat melihat kalau Sungmin tersenyum memperhatikannya. “Kau ingat dimana kita kan?”tanya Sungmin lembut.

“Lupakan. Kenapa kau membawaku kesini?”

Sungmin berdiri dan berjalan mendekati jendela. “Kau berkeras tidak ingin mengatakan apapun padaku, bukan? Baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi. Karena bagiku apapun yang akan kau katakan tidak akan mengubah apa yang kurasakan. Aku ingin kita memulai kembali apa yang terhenti dulu, Ji Yeon.

Aku ingin kita kembali bersama, menjadi sepasang kekasih lagi. Dan disinilah kita, villa Siwon. Dulu kita sangat bahagia disini, aku ingin mengulang masa-masa itu bersamamu. Aku yakin kalau kita pasti bisa bersama sekarang.”

“Jangan bermimpi, Sungmin. Segalanya sudah berubah. Tidak ada lagi yang sama seperti dulu. Dan memang ada hal-hal yang tidak bisa diubah lagi apapun yang kau katakan dan lakukan.”bisik Ji Yeon kering.

Dalam beberapa langkah besar Sungmin sudah menarik Ji Yeon berdiri di hadapannya. “Kau yang berkeras untuk tidak berusaha mengubahnya, Ji Yeon! Kalau kita berusaha, pasti akan ada yang berubah. Dan aku ingin kita kembali bersama. Kau juga pasti menginginkannya!”

“Tidak! Kau salah. Aku tidak menginginkannya.”

“Demi Tuhan, jangan berbohong, Ji Yeon!”geram Sungmin kesal. “Kau tidak pintar berbohong, Ji Yeon. Kau mungkin pintar dalam hal menyimpan segala sesuatu, tapi kau tidak pintar berbohong saat hal yang ingin kau rahasiakanlah yang menjadi pembicaraan.”

Ji Yeon terdiam dan kemudian menarik tangannya lepas dari genggaman Sungmin. “Baiklah, anggap saja aku menginginkannya. Tapi aku tidak bisa. Sudah terlambat, sangat terlambat, Sungmin.”

“Tidak ada kata terlambat untuk berubah, Ji Yeon….”bisik Sungmin lembut.

Ji Yeon memberanikan diri menatap mata Sungmin walau dia tahu kedua mata itu akan membuat rasa bersalahnya semakin dalam. “Dalam hidupku selalu ada kata terlambat, Sungmin.”sela Ji Yeon cepat. “Kau bilang kau membawaku kesini karena ingin memulai semuanya kembali bukan? Dan kau melakukan itu karena aku tidak ingin memberikan penjelasan apapun atas kejadian 10 tahun lalu bukan? Jadi kalau aku mengatakan segalanya, kau akan membawaku kembali ke Seoul?”

“Apa maksudmu, Ji Yeon?”

“Aku akan mengatakannya, Sungmin. Tapi berjanjilah kalau kau akan membawaku kembali ke Seoul.”

“Dan aku juga sudah bilang, Ji Yeon. Aku tidak peduli apapun yang kau katakan karena itu tidak akan mengubah perasaanku!”

“Semua yang terjadi awalnya mungkin hanya suatu kebetulan. Pertemuan kita di pesta Marie, dan Saemin yang menjadi pengurus rumahmu. Tapi apa yang terjadi setelah itu memang kurencanakan. Bahkan sampai aku tinggal di rumahmu. Itu semua demi mendapatkan berita eksklusif tentangmu.”ujar Ji Yeon seakan tidak mendengar protes yang diajukan Sungmin.

 

*Sungmin POV*

“Awalnya aku memang menolak untuk tinggal di rumahmu. Aku takut kalau skandalmu terkuak, maka aku juga akan ikut terlibat. Tapi setelah kupikirkan kembali, tinggal di rumahmu merupakan keberuntungan bagiku. Apalagi saat itu Minjee ada disana. Apalagi yang kubutuhkan?”

Aku tidak percaya kalau Ji Yeon mengabaikan apa yang kukatakan. Baiklah, kalau dia memang ingin menceritakan apa yang terjadi 10 tahun lalu, aku akan mendengarkannya. “Lalu kenapa kau malah menghindariku? Bukankah akan lebih baik kalau kau berusaha mendekatiku?”

“Kau benar. Sejujurnya aku takut kalau terlalu dekat denganmu, maka aku akan menyukaimu. Dan itu benar. Aku memang menyukaimu saat itu. Karena itu aku sempat melupakan apa yang harus aku lakukan, yaitu mengumpulkan berita eksklusif tentangmu. Aku baru teringat saat kita kembali dari pernikahan Minjee. Dan untungnya aku selama ini tetap menuliskan semua kegiatanku di dalam diary, jadi aku dengan mudah kembali menuliskannya dalam berita.”jelas Ji Yeon datar. “Keberuntungan lainnya adalah kau menceritakan semua hal tentang hidupmu yang tidak diketahui orang lain. Itulah yang paling penting dan menjadi nilai jual dalam tulisanku.”sambung Ji Yeon lagi.

“Kau melakukan semua itu dengan sengaja?”tanyaku pelan.

Ji Yeon mengalihkan tatapannya dari mataku. Dulu dia selalu melakukan itu saat kami bercerita tentang pekerjaannya. Tapi aku sudah memutuskan untuk mempercayai orang lain walau itu sakit, sehingga aku mengabaikan kemungkinan kalau Ji Yeon menyembunyikan sesuatu dariku. Dan sekarang aku yakin kalau itu adalah satu-satunya cara yang Ji Yeon tahu untuk bisa berbohong pada orang lain. Jangan menatap matanya.

“Aku memang sengaja melakukannya.”

Kalau dia memutuskan untuk berbohong, maka aku akan mengikutinya. “Apa ada hal lain lagi yang tidak kau ceritakan padaku? Misalnya, siapa anak kecil di dalam foto ini? Sepertinya kau sangat menyayanginya karena rumahmu penuh dengan foto-fotonya. Apa dia anakmu? Atau dia anak kita?”

Jelas sekali Ji Yeon terkejut saat aku mengeluarkan foto itu dari sakuku. Aku mengambilnya di meja kamar Ji Yeon saat mencari passport dan keperluan lain di rumahnya. Ada banyak foto anak kecil di kamarnya dan bagian lain rumahnya. Tapi yang anehnya tidak ada barang anak-anak di rumah itu. Hanya foto-foto seorang gadis cilik dari bayi sampai berusia sekitar tiga tahun. Dan sama sekali tidak ada foto-foto diusia lainnya. Jadi, dimana anak itu tinggal?

“Dia Eve Lee. Anakmu. Sebenarnya aku ingin sekali memberitahukan masalah Eve padamu, tapi setelah berita itu tersebar, kau seakan menghilang dari kehidupan. Jadi aku tidak bisa memberitahukannya padamu.”

Mendengar penjelasan Ji Yeon membuatku benar-benar shock. Aku punya anak? Gadis kecil ini adalah anakku? Dan namanya~ Eve Lee? Anak perempuan yang keberadaannya tidak pernah kuketahui?

“Kalau kau memang tidak mencintaiku seperti yang kau katakan, kenapa kau mempertahankannya? Bukankah kau bisa saja mengaborsinya? Kenapa ada banyak sekali foto anak ini di rumahmu? Dan dimana dia sekarang?”tuntutku dan aku bersumpah kalau Ji Yeon sama sekali tidak boleh berbohong untuk masalah ini. Aku berhak tahu dimana anakku!

“Ibu mana yang tega menggugurkan kandungannya? Ah aku lupa kalau ibumu sendiri bahkan tega membuangmu. Walau aku tidak mencintaimu, tapi aku menyayangi Eve. Dan kalau kau bertanya dia dimana sekarang, dia sudah tidak ada di dunia ini. Dia sudah meninggal 7 tahun lalu.”jawab Ji Yeon terdengar getir. “Aku sudah mengatakan semuanya yang perlu kau ketahui.  Bisakah kau mengantarkanku ke bandara sekarang? Aku yakin aku masih bisa mencari tiket untuk pulang.”

“Aku tidak berjanji apapun, Ji Yeon. Kau yang berkeras menceritakan masalah ini. Jadi kau dan aku tetap disini, sampai aku memutuskan untuk pulang.”ujarku pelan. “Dan jangan coba-coba lari. Aku sama sekali tidak membawa bodyguard kesini, kau bisa saja hilang di hutan dan tidak akan ada seorangpun yang tahu. Istirahat dan berdoalah, semoga kau mendapatkan cara yang lebih baik untuk berbohong padaku tentang perasaanmu.”sambungku kemudian dan meninggalkan Ji Yeon di kamar sendirian.

—to be continued—

 

Rasanya aku baru saja tertidur saat aku merasakan goncangan hebat di tempat tidurku. Gempa?? Aku langsung membuka mata dan benar-benar tidak percaya melihat apa yang sudah membuatku terbangun.

Dua bocah kecil berwajah serupa sedang berlompatan di atas tempat tidurku. Dengan cepat aku langsung menarik mereka hingga terjatuh di atas pangkuanku dan memeluk mereka sambil berguling-guling.

“Ampun, ahjussi!”teriak keduanya nyaring, tapi aku tidak akan mengampuni mereka. Aku menggelitiki mereka bergantian hingga derai tawa itu membuat sang ibu menjemput kedua malaikat kecilnya ke kamarku.

“Cara yang ampuh bukan?”tanya Hyu Rie lalu terkekeh pelan. “Ayo anak-anak, minta maaf pada Sungmin ahjussi dan turun dari tempat tidur.”

Kedua anak itu berguling turun dari tempat tidur dan membungkuk sopan. “Mianhae, ahjussi.”ujar mereka kompak sebelum berlari menghilang keluar kamar.

Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil piyama untuk menutupi tubuh atasku yang telanjang. “Bagaimana bisa kau mendidik mereka tetap sopan dan lucu saat umur mereka bahkan sudah menginjak 10 tahun.”

“Aku selalu bisa melakukan hal-hal yang kau anggap sulit, Sungmin.”jawab Hyu Rie ringan. “Apa kabarmu sepupuku? Sudah 7 tahun kau tidak pulang dan sekalinya pulang, kau tidak menemuiku.”

“Kau sudah tidur saat aku sampai di rumah. Aku bertemu dengan Donghae hyung di ruang Tulip tadi malam, dia yang mengatakan kalau kau sudah tidur.”jawabku cepat.

“Ya sudahlah. Sekarang mandilah, kami akan menunggumu untuk sarapan di bawah.”ujar Hyu Rie lalu meninggalkanku sendirian di kamar.

Hampir setengah jam kemudian aku sudah selesai berpakaian dan memilih mengenakan kaos lengan panjang abu-abu lembut dengan celana jeans. Sudah lama tidak menikmati waktu di tengah keluarga seperti. Kalau aku yang 10 tahun lalu diberitahu tentang hari ini, aku mungkin tidak akan percaya kalau aku merindukan saat-saat makan bersama dengan keluargaku.

“Apa rencanamu hari ini?”tanya Hyu Rie saat kami hampir selesai sarapan.

“Aku belum punya rencana apapun. Yang jelas aku ingin menikmati hari liburku.”ujarku santai sambil melirik malaikat kembar yang duduk di sebrangku. “Aku ingin sekali pergi keluar bersama mereka. Apa kau bisa meminta izin ke sekolah mereka untuk hari ini saja?”

“Kau yakin ingin membawa mereka berdua?”

“Tentu. Sudah 7 tahun aku tidak menghabiskan waktu bersama mereka. Jadi hari ini aku ingin mengajak mereka bermain. Ingat, hanya kami bertiga.”

Kulihat Hyu Rie memperhatikan kedua anaknya dan kemudian mengangguk setuju. “Baiklah. Kalau begitu pergilah. Mereka sedang libur minggu ini. Rencanaku, aku ingin mengajak mereka menjemput Donghae oppa di bandara. Tapi itu tidak masalah.”

“Bagus. Karena aku hanya bisa mengajak mereka pergi hari ini. Sunny tidak akan mengizinkanku untuk libur lebih lama.”ujarku cepat. “Apakah kalian sudah siap anak-anak?”tanyaku sesaat kemudian setelah meneguk habis jus jerukku.

Kedua anak berwajah sama itu saling melihat sebelum mengangguk cepat. “Kami sudah selesai!”seru mereka sama bersemangatnya denganku hari ini.

Tidak sampai lima belas menit kemudian, kedua anak itu sudah menungguku di depan garase mobil. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu saat aku menghampiri mereka. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”tanyaku tiba-tiba dan sepertinya membuat mereka cukup kaget.

Yui menghampiriku dan langsung menggandeng lenganku. “Bolehkah kita memakai mobilmu yang itu, ahjussi?”tanya gadis cilik itu sambil menunjuk mobil two seater Lamborghini Reventon milikku.

“Bagaimana bisa kita naik itu, gadis manis. Mobil itu hanya ada dua kursi dan jumlah kita adalah bertiga.”

“Kami bisa duduk bersama, ahjussi.”sela Yuki yang terlihat sama bersemangatnya dengan kembarannya.

Aku tertawa melihat kedua anak ini berusaha merayuku. “Aku berjanji akan membawa kalian naik mobil itu nanti, secara bergantian, tapi tidak sekarang. Kalian sudah terlalu besar untuk diletakkan dalam satu kursi berdua. Kita pakai mobilku yang biasa saja, okay?”

“Tapi kami ingin mencoba naik mobil yang laju, ahjussi. Dad tidak pernah membawa mobil dengan cepat. Dan Mom bilang kalau ahjussi mengendarai mobil dengan sangat cepat.”ucap Yui polos.

“Neiman Marcus tidak pernah diragukan kecepatannya sayang. Dan mobil itulah yang akan kita pakai hari ini.”ujarku sambil mendorong kedua anak kembar itu menuju sedan convertible ku yang berwarna hitam metalik itu.

Sebelum naik ke mobil aku masih sempat memperhatikan mobil-mobil yang ada di garase. Ada lebih dari lima mobil disana, dan tiga diantaranya adalah milikku. Dimana yang dua adalah sedang convertible two seater, dan yang satu adalah yang kunaiki saat ini. Yang satu lagi adalah mobil Hyu Rie, BMW X5-ku yang kuberikan padanya sebelum aku pergi ke luar negeri. Yang dua adalah mobil Donghae hyung, Acura MDX yang digunakannya saat bepergian bersama keluarganya, dan Ferrari Modena biru metalik yang kini sudah cukup jarang digunakannya. Yang satu adalah BMW X4 milik Soo Man ahjussi.

Aku mengemudikan mobil diiringi oleh ocehan kedua bocah itu tentang betapa senangnya mereka saat mengetahui kalau aku pulang. Aku memang sudah 7 tahun tidak pulang ke Seoul, tapi bukan berarti aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Hampir di setiap masa liburan sekolah, Hyu Rie dan Donghae hyung akan mengajak anak-anaknya liburan negara tempatku berada.

“Kenapa kita tidak mengajak Sungjoo, ahjussi?”tanya Yui yang memenangkan tempat duduk di sebelahku dengan pertandingan batu gunting kertas sesaat sebelum pergi.

“Sungjoo?”

Ya Tuhan! Benar. Aku tidak pernah melihat Sungjoo sejak tiga tahun lalu saat Marie dan Siwon berlibur ke Indonesia. “Apa kalian berteman baik dengan Sungjoo?”tanyaku cepat sebelum mereka memprotes ingatanku.

“Dia dan Yui berada di kelas yang sama, ahjussi.”jawab Yuki pelan.

“Apa kalian tidak keberatan kalau kita mengajaknya? Kalian yakin?”

“Tentu saja.”jawab keduanya, yang untuk kesekian kalinya dalam waktu yang bersamaan.

“Baiklah. Kita akan mampir ke rumah Sungjoo dan mengajaknya. Semoga dia tidak ada janji hari ini.”putusku sambil membelokkan mobil ke arah yang menuju rumah Siwon.

Dan begitu kami tiba di rumah Siwon, Sungjoo baru saja pergi untuk ikut berkemah bersama beberapa teman-temannya yang lain dan baru saja berangkat. Marie terlihat senang saat melihatku walau beberapa saat sebelumnya dia sempat menceramahiku kenapa aku tidak mengabari mereka tentang kepulanganku. Setelah mengobrol sebentar dan berjanji akan datang makan malam, aku berhasil keluar dengan selamat dari kediaman Choi dan kali ini benar-benar mengajak kedua makhluk kembar itu pergi bermain. Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah taman bermain.

 

Rasanya mengikuti kedua anak dengan tenaga tak terbatas itu benar-benar membuatku kewalahan. Mereka bahkan tidak berhenti untuk membeli minuman setelah menaiki tiga wahana yang berbeda. Masalah mulai muncul saat mereka ingin naik wahana yang berbeda. Dan celakanya, tidak ada satupun dari Yui dan Yuki yang berniat mengalah.

“Bagaimana kalau main batu gunting kertas? Yang menang akan memilih naik apa?”

“No.”jawab keduanya serentak.

“Ya Tuhan, anak-anak. Menjawab saja kalian bisa kompak tapi kenapa kali ini tidak?”tanyaku nyaris frustasi. “Begini saja. Aku akan mengantar Yui naik wahana yang diinginkannya, dan kemudian aku akan mengantarmu. Setelah itu aku akan menjemput kalian bedua lagi. Ottoke?”

Keduanya saling berpandangan dan kemudian mengangguk setuju. Aku benar-benar nyaris frustasi melihat mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa kompak dalam hal lainnya, tapi hanya satu ini mereka sampai bertengkar hebat?

Aku mengantar Yui ke wahana yang diinginkannya dan kemudian menunggu sampai wahana itu beroperasi sebelum mengantar Yuki ke tempat yang dia inginkan. Aku juga meninggalkan Yuki di tempat dia bermain untuk pergi membeli softdrink. Begitu selesai membayar belanjaanku, aku segera kembali ke tempat Yui bermain tapi anak itu sudah tidak ada. Aku bergegas mencari Yui disekeliling wahana, tapi Yui tetap tidak kutemukan. Aku memutuskan untuk pergi ke tempat Yuki, dan untungnya bocah laki-laki itu baru saja selesai dan langsung menghampiriku.

“Saudaramu menghilang.”ujarku berusaha tidak terlihat panik, tapi gagal!

Kami berdua langsung berlari bersama sambil meneriakkan nama Yui. Memang cukup menarik perhatian tapi aku tidak peduli! Kami sepakat untuk melaporkan kehilangan Yui ke pihak keamanan terdekat. Dan sepanjang jalan itulah aku dan Yuki tidak henti-hentinya meneriakkan nama Yui.

Tidak jauh dari pos keamanan terdekat tiba-tiba Yuki berhenti dan sama mendadaknya dengan tadi, kini anak itu berlari sangat cepat menuju seseorang yang berdiri di pos keamanan. Itu Yui. Dan siapa anak kecil yang bersamanya itu?

Yuki langsung memeluk Yui dan entah apa yang dibicarakan kedua anak itu hingga aku tiba. “Kenapa kau menghilang?”tanyaku cepat sambil meraih Yui ke dalam pelukan.

“Mianhae, ahjussi. Saat aku selesai tadi, anak ini entah sejak kapan mengikutiku kemanapun aku pergi. Sepertinya dia cacat, dan aku tidak mungkin meninggalkannya. Karena itu aku pikir lebih baik aku melaporkannya pada penjaga kalau-kalau ada orangtua yang kehilangan anaknya dan menunggu disini.”

“Aku benar-benar takut kau hilang, sayang.”ujarku lembut sebelum melepas pelukanku pada Yui.

“Kenapa kau tidak menelponku saja, ahjussi?”

Dan saat itulah aku merasa bodoh seumur hidupku. Bagaimana mungkin aku melupakan hal itu? Padahal Hyu Rie sudah mengingatkan padaku kalau kedua anaknya sudah membawa ponsel sendiri-sendiri.

“Dia pasti lupa, eonni. Begitu juga denganku. Kami sudah terlalu panik sampai tidak bisa mengingat hal itu.”jawab Yuki ringan dan itu memang benar.

Aku memperhatikan anak kecil yang berdiri di dekat Yui. Pakaiannya mungkin memang berbeda. Tapi ini adalah anak yang sama dengan yang mengigit tangan Ji Yeon. Apa itu artinya Ji Yeon ada disini dan akan segera mencari anak ini?

***

Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah ia, walau jalannya terjal dan berliku… Jika cinta memelukmu, maka dekaplah ia, walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu… Jika cinta berucap padamu, maka percayalah ia, walau suaranya akan menghancurkan mimpi-mimpimu layaknya topan menghancurkan tanaman… Karena cinta tidak akan pernah memberikan apapun kecuali dirinya sendiri…

Lagi-lagi aku ingat kata-kata itu. Kalimat yang pernah kubaca tidak lama setelah aku menetap di Indonesia untuk mengurus cabang perusahaan disana. Dan kini aku kembali teringat kata-kata itu. Terlalu mirip dengan apa yang kurasakan. Cinta yang kurasakan untuk Ji Yeon dulu membutuhkan perjuangan. Dan pada akhirnya cinta itu melukaiku dengan pedang disela-sela sayap indahnya.

Terlalu mirip. Tapi karena itu aku berhasil bertahan walau seluruh orang menyalahkan Ji Yeon, aku tetap akan menunggu dia memberikan penjelasan atas apa yang dia lakukan dulu. Bukankah kalau cinta berkata maka aku harus mempercayainya? Walau apa yang mungkin akan dikatakannya membuatku semakin hancur.

Aku akan menemui Ji Yeon nanti. Bertemu dan berkenalan dengan Hyelim beberapa hari lalu benar-benar keberuntungan. Kalau tidak karena Yui menemukan anak Hyelim yang hilang di taman bermain, aku tidak akan pernah tahu tempat kerja dan alamat Ji Yeon. Sejujurnya begitu tahu Ji Yeon bekerja di tempat yang sama dengan Hyelim, aku ingin sekali segera menemuinya. Tapi aku punya hal yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Aku tidak bisa mengorbankan ribuan pegawaiku atau mengabaikan kalau aku bisa menemukan fakta lainnya. Ada saatnya dimana aku bisa bersikap egois, dan hari inilah saatnya.

*Author POV*

Setelah kejadian minggu lalu di Hikari House, Ji Yeon memutuskan untuk membatasi kegiatannya di yayasan kalau menyangkut kunjungan ke Hikari House. Ji Yeon tidak ingin bertemu dengan Sungmin apapun alasannya. Sudah terlambat bagi mereka untuk bisa memperbaiki apa yang sudah terlanjur hancur 10 tahun yang lalu, dan Ji Yeon sudah cukup selama 10 tahun ini hidup dalam penyesalan karena menghancurkan hidup Sungmin, dan dia tidak butuh lagi melihat Sungmin untuk memperdalam rasa sakitnya.

“Ji Yeon-ssi?”panggil sebuah suara yang akhirnya menyadarkan Ji Yeon dari lamunannya.

Ji Yeon mengangkat kepala dan menatap si pemilik suara. “Waeyo, Jung Ah?”

“Ada yang mencari anda di bawah.”ujar yeoja bernama Jung Ah itu.

Ji Yeon memiringkan kepalanya bingung. “Nugu?”

“Dia bilang kalau dia kenalan anda. Dan ingin membuat kejutan. Dia seorang namja.”

Ji Yeon sama sekali tidak bisa menebak siapa yang datang, kemungkinan terbesar hanyalah Hankyung. Tapi kalau orang itu memang Hankyung, dia akan langsung masuk ke kantor Ji Yeon, bukannya menunggu di bawah.

Setelah merapikan stelan kerjanya, Ji Yeon melirik riasannya di cermin kecil di atas meja kerjanya. Sejak memutuskan mundur dari dunia jurnalis, Ji Yeon kembali ke gelar awalnya, yang seorang sarjana psikologi dan membuka praktek konsultasi bekerja sama dengan salah seorang orangtua anak yang ada di yayasan tempat Ji Yeon menjadi sukarelawan. Tempat praktek Ji Yeon hanya berupa rumah dua lantai. Di bawah adalah tempat praktek dari rekanan Ji Yeon, karena itu Ji Yeon berada di lantai dua.

Bagi Ji Yeon, tidak mudah mengubah kebiasaannya dari seorang jurnalis menjadi seorang psikolog seperti saat ini. Tapi tuntutan untuk mengurus anak membuat Ji Yeon rela melakukan apapun demi anaknya. Dengan mantab Ji Yeon melangkah menuruni tangga menuju ruang tamu di lantai dasar. Sapaan sudah menggantung di bibir Ji Yeon saat dia sadar siapa tamunya kali ini.

“Ah, akhirnya kau turun juga, sayang. Ini Lee Sungmin. Tapi kau pasti sudah kenal dengannya bukan? Dia bilang kalian teman lama.”ujar seorang wanita paruh baya sambil tersenyum pada Ji Yeon dan Sungmin bergantian.

Pacar lama mungkin lebih tepat.ralat Ji Yeon dalam hati.

Melihat Ji Yeon yang tak kunjung melangkahkan kakinya memasuki ruangan, wanita itu memilih berdiri dan menarik Ji Yeon mendekatinya. “Aku akan pergi. Lain kali kita mengobrol lagi, Sungmin-ssi.”

“Tentu. Kamsahamnida, Hyelim-ssi.”

“Untuk apa kau kesini?”sembur Ji Yeon langsung saat Hyelim menghilang di balik pintu.

“Untuk mencarimu tentu saja. Apa gadis manis di depan itu tidak mengatakannya?”

“Dia sudah mengatakannya. Tapi… Ya Tuhan, siapa yang akan mengira kalau kau yang datang!”

“Kau berhutang banyak sekali penjelasan padaku, Ji Yeon-ah~ Dan aku sudah menunggu 10 tahun untuk mendapatkannya.”

“Aku tidak berhutang apapun padamu!”ujar Ji Yeon nyaris berteriak. “Berapa kali harus kukatakan, aku tidak berhutang penjelasan atau apapun. Aku sudah minta maaf minggu lalu. Aku tidak punya hutang apapun lagi.”

Sungmin melangkah mendekat dan mencengkrang pergelangan tangan Ji Yeon. “Kau berhutang penjelasan atas segala yang terjadi 10 tahun lalu padaku, chagi. Dan aku berniat mendapatkannya apapun yang terjadi.”geram Sungmin.

Ji Yeon tertunduk. Luka hatinya yang tidak pernah sembuh itu kini semakin perih. Ya, aku memang berhutang penjelasan padamu. Tapi tidakkah semua sudah terlambat sekarang? Banyak sekali hal-hal yang sudah terjadi dan tidak bisa diubah. Termasuk kepergian Eve.bathin Ji Yeon.

“Untuk apa Sungmin? Kalau kau bisa melalui 10 tahun ini tanpa penjelasan dariku, kenapa sekarang kau menginginkannya? Apa bedanya kau melalui 10 atau 20 tahun lagi tanpa penjelasan itu? Tidak akan ada yang berubah.”bisik Ji Yeon lemah.

Sungmin meletakkan jarinya di dagu Ji Yeon dan memaksan kedua mata Ji Yeon menatapnya. “Ya, memang tidak akan ada yang berubah, Ji Yeon. Karena dengan atau tanpa penjelasan itu, aku dengan bodohnya masih mencintaimu selama ini!”

Tanpa sadar Ji Yeon mengerjapkan matanya, membuat airmata yang sejak tadi ditahannya mengalir begitu saja. “Pergilah, Sungmin. Kau bisa melanjutkan hidupmu. Aku akan menjelaskannya nanti, tapi tidak hari ini. Pergilah~”bisik Ji Yeon. “Jung Ah!”panggil Ji Yeon kuat sambil mengelap airmatanya.

“Ada apa, Ji Yeon-ssi?”tanya Jung Ah yang datang beberapa saat kemudian.

“Tolong antarkan, Sungmin-ssi keluar.”ujar Ji Yeon kering sambil menarik lepas pergelangan tangannya dari cengkraman Sungmin dan berjalan keluar dari ruang tunggu, meninggalkan Sungmin yang masih berdiri terpaku di tempat semula.

“Sungmin-ssi?”panggil Jung Ah sopan.

Tapi Sungmin hanya diam. Pria itu bereaksi saat ponselnya berdering dan nama Sunny muncul di layar. “Hallo?”

“Kau dimana? Rapat akan dimulai 10 menit lagi dan CEOnya tidak ada ditempat!”omel Sunny dari seberang.

“Aku akan segera ke kantor.”ucap Sungmin singkat sebelum memutuskan sambungan. “Ini kartu namaku, dan ini adalah nomor ponselku. Katakan pada Ji Yeon untuk menghubungi secepat yang dia bisa kapanpun itu. Atau aku yang akan mencarinya lagi kalau dalam 24 jam dia tidak menelponku.”lanjut Sungmin sambil menuliskan sederet nomor di belakang kartu namanya.

Belum sempat Jung Ah memberikan tanggapan, Sungmin sudah berjalan keluar dari ruang tunggu dengan sangat cepat.

 

*Ji Yeon POV*

Selama 10 tahun, Sungmin berhasil mengganggu siang dan malamku dengan bayangannya. Sekarang sudah dua kali sosok nyata itu muncul di hadapanku. Dan hari ini…

“Kenapa dia bisa tahu aku bekerja disini? Dan kenapa dia berkeras menginginkan penjelasan dariku setelah 10 tahun? Kalau dia bisa melanjutkan hidupnya selama 10 tahun ini tanpa penjelasan apapun kenapa sekarang tidak bisa? Kenapa dia bilang masih mencintaiku? Dia pasti tidak bersungguh-sungguh untuk yang satu itu. Dia tidak mungkin masih mencintaiku setelah apa yang aku lakukan padanya.”

Aku melirik kartu nama Sungmin di tanganku dan sebuah foto di meja rias di kamarku bergantian. “Eve, seandainya kau ada disini saat ini. Appa-mu tadi datang, sayang. Dia nyaris tidak berubah. Tetap tampan dan mempesona. Tapi bukan itu yang membuat eomma mencintainya. Apa yang ada didalam hatinya lah yang membuat eomma mencintainya. Kau pasti akan bangga memiliki appa sepertinya. Setelah apa yang eomma lakukan pada hidupnya dulu, dia tetap bisa bangkit dan jauh lebih sukses saat ini.”bisikku pelan sambil menyentuh foto seorang gadis manis berkulit pucat di dalam foto.

“Haruskah eomma menelpon appamu malam ini?”tanyaku kemudian dan sadar kalau foto Eve tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang kuinginkan.

—to be continued—

 

*Ji Yeon POV*

Seminggu ini terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Menghabiskan waktu terbaring di rumah sakit tanpa bisa melakukan apapun untuk menolong Sungmin benar-benar membuatku frustasi. Dan sekarang tingkat frustasiku semakin meningkat. Rumah Sungmin kosong. Tidak ada orang disana. Bahkan tetangganya pun tidak tahu apa yang terjadi dan kemana Sungmin pergi. Bagaimana bisa aku malah mengalami kecelakaan saat ingin kerumah Sungmin untuk menjelaskan semuanya?

“Sial! Aku tahu kalau dia sudah melakukan jumpa pers, tapi tetap saja aku harus mengatakan kebenarannya bahwa aku sama sekali tidak tahu berita itu sudah bocor di tangan Shindong. Aku tidak bisa melepas dan kehilangan dia seperti ini. Aku tidak bisa!”bisik Ji Yeon sambil mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelpon Sungmin tapi sama sekali tidak tersambung.

Dimana Sungmin sebenarnya saat ini? Apa aku harus mencari sampai ke managemennya? Aku tidak bisa membiarkan dia pergi tanpa mengetahui apapun!

 

Aku benar-benar tidak tahu harus mencari Sungmin kemana lagi. Managemennya mengatakan kalau Sungmin tidak meninggalkan apapun untuk bisa menghubunginya. Mana bisa Sungmin menghilang begitu saja seperti ini? Bagaimana mungkin dia tidak mengatakan apapun padaku? Aku bahkan tidak sempat mengatakan maaf padanya.

“Setidaknya izinkan aku mengatakan maaf padanya…”bisikku pelan dan tiba-tiba rasa pusing itu kembali. Brengsek. Kalau bukan karena sakit kepala yang selalu menyerang setiap aku kelelahan ini, aku mungkin sudah bisa keluar dari rumah sakit berhari-hari yang lalu dan mungkin bisa bertemu dengan Sungmin.

Aku membuka pintu apartemenku. Tidak ada yang berubah sejak hari terakhir Sungmin pergi dari apartemenya. Tempat tidur yang masih berantakan setelah mereka bercinta, beberapa barang Sungmin yang sengaja ditinggal disana, dan hal-hal lainnya yang menjelaskan kalau Sungmin pernah berada disana.

“Kita akan mencari appa-mu sayang. Dan eomma berjanji kita akan menemukannya, walau itu akan menghabiskan waktu seumur hidup eomma. Setidaknya untuk minta maaf atas kesalahan yang sudah eomma lakukan pada appa-mu.”bisikku pelan sambil mengelus janin berusia hampir 8 minggu dalam rahimku itu.

***

10 tahun kemudian…

“Oppa! Apa yang kau lakukan?”teriakku pada Hankyung oppa yang bukannya membantu anak-anak itu masuk ke dalam bus dengan tertib tapi malah bermain dengan mereka.

“Mereka sedang ingin bermain, Ji Yeon. Apa kita harus sepagi ini kesana?”tanya Hankyung oppa yang sejak setahun terakhir pindah ke Seoul setelah Saemin ahjumma meninggal beberapa bulan sebelumnya.

Aku hanya memelototkan mataku pada Hankyung oppa yang berakhir dengan gerutuan kesalnya sebelum membantu anak-anak itu naik ke dalam bus dengan tertib. “Benarkah kau bisa mengatasi mereka, Ji Yeon-ssi?”tanya seorang wanita padaku.

“Kalau anda benar-benar mencemaskannya, anda bisa ikut dengan bus bersama kami. Sepertinya aku memang membutuhkan bantuan dari beberapa orangtua.”jawabku jujur karena anak-anak yang akan ikut ke acara peresmian gedung baru untuk yayasan kami melebihi jumlah yang kuperkirakan.

Setengah jam kemudian kami sudah diperjalanan menuju tempat acara. Sejak 7 tahun lalu aku sudah mengabdikan diri untuk yayasan ini. Tidak pernah aku berpikir untuk mengganti pekerjaanku ini. Sama sekali tanpa gaji, tapi aku senang bersama mereka. Tidak ada perbedaan si kaya dan si miskin. Kebahagiaan anak-anak adalah yang paling penting. Walau aku tidak bisa melihat tawa Eve lagi, tapi selalu ada bayangan keceriaan Eve di wajah anak-anak ini.

“Apa kau benar-benar tidak tahu siapa yang memberikan gedung itu untuk rumah peristirahatan musim panas anak-anak ini?”tanya Hankyung oppa entah untuk keberapa kalinya dalam minggu ini.

“Mollayo, oppa. Cathrine tidak mengatakan apapun. Dia hanya bilang kalau ada pengusaha muda yang menyumbangkan rumahnya untuk yayasan kami.”

Cathrine Savaraz adalah seorang wanita Rusia yang mendirikan yayasan anak-anak penyandang cacat di Seoul. Yayasan ini berdiri sejak 10 tahun lalu, dan aku baru menjadi sukarelawan disana sejak 7 tahun silam. Dan untuk beberapa hal, Cathrine mempercayakan urusan yayasan padaku, seperti kali ini, saat ada seseorang yang sangat kaya ingin mendonasikan rumahnya untuk rumah peristirahatan musim panas bagi anak-anak ini. Dan kalau ada waktu luang, Hankyung oppa selalu membantuku di yayasan. Hankyung oppa tidak pernah menikah. Menurutnya pekerjaannya akan menyita waktu lebih banyak dan nantinya hanya akan membuat istrinya kesepian.

“Dan kau juga tidak tahu dimana rumahnya?”tanya Hankyung lagi

Aku hanya menggeleng pelan karena aku benar-benar tidak tahu. Yang kutahu hanyalah Cathrine memintaku menggantikannya dalam acara ini. Tapi kebisuan kami selanjutnya bukan karena tidak tahu apa-apa melainkan karena daerah yang kami datangi sangat familiar bagiku. Rumah tempat bus berhenti tepat di depan pagarnya bukanlah tempat yang tidak kukenal. Aku mengenal setiap sudut rumah itu, bahkan setelah 10 tahun tidak pernah memasukinya. Rumah yang menjadi awal babak baru dalam hidupku itu masih seperti dulu, tetap megah dengan desainnya yang unik seakan waktu tidak bisa membuatnya terkikis.

 

*Sungmin POV*

Selama beberapa tahun terakhir ini aku tidak pernah menginjakkan kaki di Seoul. Semua transaksi ataupun rapat kulakukan via video call. Ternyata menjadi seorang CEO tidak seburuk yang kuduga. Bekerja bersama team yang kini kumiliki hampir sama saja dengan saat aku menjadi artis. Selalu saling membutuhkan satu sama lain. Dan Toronto adalah pemberhentian perjalanan bisnisku yang terakhir. Untuk pertama kalinya dalam 7 tahun aku menginjakkan kaki kembali di Incheon.

“Bagaimana rasanya kembali ke Seoul, Sungmin?”tanya sebuah suara yang langsung menyadarkanku dari lamunanku.

Aku tersenyum pada yeoja mungil di depanku ini. “Aku pulang, Sunny.”ujarku lalu memeluk yeoja itu.

Sunny membalas pelukanku sebelum melepaskannya dengan cepat. “Kita harus bergegas, Sungmin. Kau tidak ingin terlambat bukan?”

“Arasso. Kajja.”ujarku berjalan mengikuti Sunny ke mobil jemputan yang sudah menungguku.

Terakhir kali aku bertemu dengan Sunny adalah 7 tahun lalu saat dia mendaftar menjadi sekretarisku. Dan dia satu-satunya orang yang memenuhi kriteriaku hingga bisa bertahan selama 7 tahun ini menjadi sekretarisku bahkan tanpa aku di sisinya. Aku terbiasa mendelegasikan beberapa proyek padanya. Seperti yang satu ini. Aku datang hanya untuk menggunting pita dan sedikit beramah tamah sebelum pulang ke rumah untuk istirahat. Penerbangan hampir 20 jam dari Toronto benar-benar menguras tenagaku.

Aku benar-benar tidak sadar sudah tertidur selama perjalan dari Incheon menuju tempat dimana acara akan diselenggarakan sampai Sunny menepuk bahuku berkali-kali. “Kau pasti lelah sekali. Hanya ini jadwalmu untuk hari ini. Besok kau bisa libur karena semuanya sudah kutangani.”ujar Sunny lembut saat aku bangun dan sadar kalau kami sudah berhenti tepat di keramaian undangan acara.

Aku mengangguk pelan dan keluar dari mobil. Tidak terlalu banyak undangan yang disebar, karena aku memang tidak menginginkan publikasi apapun tentang diriku. Aku tidak ingin lagi menjadi perhatian publik saat aku bisa menghindarinya. Karena itu aku lebih sering mengatur, memerintahkan segalanya, tapi Sunny-lah yang harus berhadapan dengan media.

Aku masih memperhatikan keramaian itu saat Sunny berdiri di depanku dan mulai merapikan jas sporty yang kukenakan. Aku tidak mungkin mengenakan stelan formal saat harus menjalani penerbangan hampir satu hari penuh bukan? Untung saja aku selalu membawa jas sporty di dalam tas serba gunaku sehingga aku bisa berganti pakaian di dalam pesawat. “Thanks.”bisikku pelan lalu berjalan bersama Sunny menuju tenda tempat para undangan VIP berkumpul.

 

*Author POV*

Entah siapa yang lebih terkejut saat itu. Ji Yeon yang sedang menemani salah seorang anak mengambil makanan atau Sungmin yang sedang berjalan mendekati tenda dan mendapati Ji Yeon menggandeng seorang bocah laki-laki. Dan saat kedua bertatapan waktu seakan berhenti. Tidak ada satupun dari mereka yang bergerak sampai bocah laki-laki yang digandeng Ji Yeon mengigit tangan yeoja itu.

Ji Yeon sama sekali tidak marah ataupun berusaha untuk melepas tangannya. Ji Yeon hanya berlutut dan mengucapkan sesuatu dengan sangat lembut diikuti senyum hingga bocah itu melepas gigitannya. “Kita kembali bergabung bersama yang lain.”ucap Ji Yeon lembut sambil mengelap air ludah yang terus menetes dari mulut si bocah dengan sapu tangan indah yang dipegangnya.

“Tidak menyapa orang yang kau kenal, chagi?”tanya Sungmin begitu saja yang langsung membuat Ji Yeon membeku di tempat. Sudah 10 tahun dia tidak mendengar kabar tentang namja di hadapannya saat ini. Sudah 10 tahun dia tidak mendengar suara indah yang entah kenapa sekarang terdengar dingin itu. Sudah 10 tahun dia tidak mendengar panggilan sayang dari namja itu yang entah kenapa terdengar ejekan didalamnya saat ini.

Sungmin sendiri sepertinya tidak percaya kalau dia bisa mengucapkan hal itu. Kehadiran Ji Yeon setelah 10 tahun terakhir membuat Sungmin merasa kalau dia sekarang sedang bermimpi. Yeoja yang dulu dicintainya tanpa alasan kini hadir dalam sosok baru di hadapannya. Seorang wanita lembut dengan sifat keibuan serta penampilan yang mungkin tidak akan pernah berani dibayangkan oleh Ji Yeon yang dulu. Dan tiba-tiba semua perasaan dan keinginan yang selama 10 tahun ini berusaha ditahannya, menyerbu kesadaran Sungmin.

“Lee Sungmin?”ujar sebuah suara menyadarkan Sungmin kalau apa yang terjadi bukanlah mimpi.

Entah sejak kapan, Hankyung sudah berdiri di sisi Ji Yeon. “Hallo, Hankyung. Apa kabar? Sudah lama sekali ya?”sapa Sungmin benar-benar terdengar formal.

“Kalian sudah saling mengenal?”tanya Sunny yang juga sudah kembali ke sisiku. “Baguslah. Sungmin, Ji Yeon-ssi adalah perwakilan yayasan untuk menerima rumah ini. Karena sepertinya kalian sudah saling mengenal, setidaknya acara ini akan berlangsung sedikit lebih santai.”lanjut Sunny santai.

Beberapa menit kemudian, acara pemindahan kepemilikan atas Hikari House ke Yayasan tempat Ji Yeon bekerja berjalan lancar. Walaupun sebenarnya Sunny menginginkan acara yang lebih santai mengingat dua tokoh utama dalam acara ini sudah saling mengenal, tapi yang terjadi malah suasana semakin kaku. Setelah pengguntingan pita dan memberikan kata sambutan, Ji Yeon langsung menghilang.

“Apa kau ingin melarikan diri lagi, Ji Yeon-ah?”tanya Sungmin setelah berkeliling dan menemukan Ji Yeon di gazebo halaman belakang.

Ji Yeon langsung mendongak, kaget mendengar suara itu di dekatnya padahal dia sengaja menjauh. Tidak satupun dari mereka yang bersuara saat ini. Gazebo ini adalah gazebo yang sama saat Sungmin mencium Ji Yeon pertama kalinya di malam ulang tahun Ji Yeon. Kedua sama-sama teringat hal itu sampai akhirnya, Ji Yeon memaksa dirinya kembali ke kenyataan. “Apa yang kau lakukan disini?”tanya Ji Yeon cepat.

“Seingatku, kita hanya melakukan pengguntingan pita bukan? Jadi rumah ini masih milikku sampai notaris mengesahkan semua besok. Aku masih berhak berkeliling di rumahku sendiri.”jawab Sungmin dingin. “Bukankah kau yang seharusnya menjelaskan kenapa aku berada disini? Dan tidakkah kau merasa berhutang ucapan maaf setidaknya dua kali padaku?”

“Aku tidak ingat berhutang permintaan maaf atas apapun padamu. Kalaupun yang baru saja ini kau hitung sebagai hutang, baiklah, aku akan minta maaf.”balas Ji Yeon sama dinginnya.

“Tentu saja kau berhutang permintaan maaf padaku, Han Ji Yeon. Tapi kau bisa membayarnya dengan hal lain.”

“Apa mak..”

Ji Yeon sama sekali tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena bibir Sungmin sudah menutup bibirnya. Sungmin menciumnya lama hingga Ji Yeon yakin dia akan mati kehabisan napas dalam pelukan Sungmin. Ji Yeon sama sekali tidak bisa berpikir apapun. Ciuman Sungmin mengingatkannya akan apa yang dulu pernah mereka rasakan bersama. Dan tiba-tiba saja kesadaran itu kembali meremas jantung Ji Yeon dan membuatnya memaksa memberontak keluar dari pelukan Sungmin.

“Apa yang kau lakukan!”seru Ji Yeon dengan wajah merah.

Sungmin menjilat bibirnya dan kemudian tersenyum. “Kau masih seperti dulu dalam membalas ciumanku. Sepertinya untuk yang satu itu kau tidak berubah.”bisik Sungmin yang langsung mendapatkan tamparan hebat di pipinya.

“Kalau aku memang berhutang permintaan maaf padamu, sekarang aku minta maaf Lee Sungmin atas apapun yang kulakukan padamu! Tapi kau tidak berhak memperlakukanku seperti itu!”teriak Ji Yeon dan langsung berlari meninggalkan Sungmin sendirian di gazebo.

***

*Sungmin POV*

Seharusnya begitu tiba di rumah aku langsung istirahat dan tidur. Tapi kenyataannya sampai hampir tengah malampun kedua mata ini menolak untuk terpejam. Apa yang terjadi tadi siang membuatku merasa seperti namja brengsek. Kenapa aku melakukan hal itu? Kenapa Ji Yeon bisa berubah seperti itu? Dan kenapa perasaanku padanya tidak berubah? Sudah 10 tahun berlalu sejak masalah itu muncul.

“Aku memang menghilang seminggu setelah masalah itu muncul untuk menghindari masalah. Tapi Ji Yeon punya waktu seminggu untuk mencariku. Apa dia memang benar-benar sengaja melakukan itu semua? Tapi melihatnya begitu sayang pada anak-anak cacat hari ini membuatnya terlihat tidak akan mampu melakukan hal licik seperti itu.”bisikku pelan sambil menatap langit malam melalui beranda kamarku.

“Kau belum tidur?”tanya sebuah suara dari arah kamar sebelah.

Soo Man ahjussi juga sedang memandang langit melalui beranda kamarnya. Aku menggeleng pelan. “Ada hal yang kupikirkan.”

“Tidurlah. Kau pasti sangat lelah hari ini. Apapun masalahnya, setelah istirahat, kau pasti bisa menemukan pemecahannya.”

“Apa kau pernah mencintai seseorang walau orang itu tidak ada dalam hidupmu lagi?”tanyaku tiba-tiba.

“Ah… Kau jatuh cinta rupanya.”ujar Soo Man ringan. “Aku mencintai ibu Hyu Rie sampai sekarang. Walau dia sudah lama meninggalkanku, bagiku itu tidak masalah. Ditempatnya sekarang dia pasti masih mencintaiku seperti aku mencintainya.

Katakan padaku anak muda. Siapa yeoja yang mendapat kesialan karena kau mencintainya? Aku mungkin tidak pernah lagi menyelidikimu dengan sengaja tapi aku tahu kalau kau selalu berganti pasangan kencan tidak lebih dari 3 bulan. Aku hanya bisa berharap kalau yeoja itu bukan si wanita plastik yang kau kencani itu.”

Kali ini Soo Man ahjussi benar-benar mendapatkan perhatianku. “Wanita plastik?”

“Model yang terakhir kau kencani itu. Bahkan walau sudah setua ini aku tahu kalau beberapa bagian tubuhnya sengaja diperbesar. Payudara dan bokong palsu. Ya Tuhan!”

“Bagaimana bisa kau mengetahui hal itu?”tanyaku tidak percaya.

Bagaimana bisa pria tua sepertinya masih memiliki mata yang sangat jeli seperti itu? Dan bokong palsu? Ya Tuhan! Bagian tubuh mana yang asli sebenarnya dari wanita itu?

“Jadi benar wanita itu yang kau cintai?”

Aku menggeleng cepat. “Bukan. Tentu saja bukan. Hanya satu orang yang kucintai sampai saat ini.”ujarku begitu saja, “Sudahlah, lupakan saja. Aku ingin tidur. Selamat malam.”selaku cepat dan langsung masuk ke dalam kamarku.

—to be continued—

 

Tiba-tiba Ji Yeon berlutut di ruangan Shindong dan menatap bos-nya itu memohon. “Jangan terbitkan. Jeball. Batalkan percetakan itu sekarang. Kau tidak bisa menerbitkannya.”

“Ada apa denganmu, Ji Yeon? Bukankah kita sudah sepakat dengan masalah ini? Kau mengumpulkan berita tentang kehidupan pribadi Sungmin dan aku akan memberikan hak khusus untuk meliput sebagai wartawan konflik dimanapun kau inginkan.”

“Tapi aku sudah tidak menginginkannya! Aku tidak ingin jadi wartawan konflik atau apapun. Karena itu jangan terbitkan berita itu!”

“Itu masalahmu. Aku tidak pernah mengatakan kalau kau tidak menginginkan posisi itu maka edisi khusus Lee Sungmin juga akan batal. Aku tetap akan menerbitkannya.”putus Shindong tanpa menghiraukan kenyataan kalau Ji Yeon sudah berlutut di hadapannya.

“Aku akan melakukan apapun. Tapi, jeball, jangan terbitkan tulisan itu.”ujar Ji Yeon tetap tidak mau menyerah.

Shindong menggeleng. “Kesuksesan ada di depan mata dan aku menghindarinya? Tidak mungkin, Han Ji Yeon. Cukup sekali aku gagal. Dan kali ini aku harus berhasil. Sekarang kembali ke mejamu. Jangan datang kesini kalau bukan masalah penting. Dan jangan pernah mengungkit masalah pembatalan cetak, aku tidak akan melakukannya demi apapun!

Aku sudah memberimu waktu sangat lama. Mengizinkanmu untuk tidak masuk kantor tanpa cuti. Memberikan keringanan lainnya hanya agar kau menyelesaikan tugasmu. Dan kalau aku tidak mencari tahu sampai ke komputermu berapa lama kau akan menyembunyikannya dariku?”

 

*Ji Yeon POV*

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa tidak kuhapus saja semua file itu sejak aku memutuskan untuk tidak mempublikasikan kehidupan Sungmin? Ya Tuhan!

Belum sempat aku menemukan jawaban atas semua pertanyaanku, ponselku bergetar. Nama Sungmin tertera di layar.

“Yoboseyo?”

“Ji Yeon-ah, gwenchana? Kau tiba-tiba saja pergi. Ada apa?”

Tanpa sadar airmata membasahi pipiku. Bagaimana mungkin namja yang sangat kucintai ini akan hancur sebentar lagi hanya karena kecerobohanku? Bagaimana mungkin kalau hancurnya karir seorang Lee Sungmin adalah karena kebodohanku? Aku tidak sanggup kehilangan dia, tapi aku lebih tidak sanggup melihatnya hancur.

“Gwenchanayo. Aku harus ke kantor tadi. Ada sedikit masalah.”jawabku jelas-jelas berbohong kali ini.

“Apa sudah selesai? Apa kau ingin kujemput?”

“Anio. Aku akan segera kembali.”

“Baguslah. Aku akan menunggumu di rumah. Kalau saja kau tahu apa yang kupikirkan saat ini…”ujar Sungmin yang kutahu dengan pasti sengaja dibuatnya menggantung.

“Katakan padaku saat aku sampai nanti. Bye~”

Aku menatap jalanan di depanku. Seandainya telpon itu tidak membangunkanku, aku mungkin sekarang masih berada di tempat tidur bersama Sungmin. Sejak liburan bulan lalu, kami sekarang selalu menghabiskan malam bersama. Walau tidak ada janji pernikahan, tapi aku bahagia. Saat kami bersama sama sekali tidak ada perbedaan. Dia selalu menjadi Lee Sungmin disisiku, bukan sang artist terkenal atau pewaris L2, hanya Lee Sungmin.

“Apakah aku harus berbohong padanya? Atau mengungkapkan kebenaran kalau kurang dari 24 jam karirnya bisa saja hancur berkeping-keping atau malah melejit dengan pesat?”bisikku sambil mengelus perut dan menyusuri jalan menuju apartemenku yang hanya beberapa blok dari kantor.

***

*Hyu Rie POV*

Sejak kelahiran Yui dan Yuki, aku dan Donghae oppa memutuskan untuk menetap di apartemen kami saja, dan memberikan kebebasan penuh pada Sungmin untuk mengatur kehidupan pribadinya. Tapi bukan berarti kalau aku tidak tahu Ji Yeon cukup sering menghabiskan malam di rumah Sungmin ataupun sebaliknya. Aku senang melihat Sungmin sangat bahagia bersama Ji Yeon lebih dari biasanya. Tapi aku sangat takut kebahagiaannya itu akan berbalik menyakitinya.

Aku baru saja selesai menidurkan si kembar saat aku melihat berita Sungmin ditayangkan di televisi. Dengan cepat aku mengambil remote dan menambah volume suaranya. Disana jelas-jelas disebutkan kalau kisah kehidupan pribadi Sungmin dibahas secara terbuka disalah satu majalah ibukota.

Dalam hitungan detik, telpon didekat TV langsung berdering. “Yoboseyo?”

“Apa kau sudah melihat berita, chagi?”

Ini suara Donghae oppa. “Aku sedang menontonnya sekarang, oppa. Apa yang terjadi? Apa kau membaca majalah yang mereka maksud?”

“Ani. Tapi aku akan mencari majalah itu apapun caranya dan aku akan segera pulang menjemputmu.”

“Ne, oppa. Aku akan mencoba menelpon Sungmin dan menyuruhnya tetap di rumah sampai kita tiba disana.”ujarku sebelum memutuskan sambungan telpon.

Dan beberapa detik kemudian telponku sudah tersambung dengan Sungmin.

“Aku tidak tahu, noona. Aku sama sekali tidak bisa menebak darimana mereka mendapatkan itu semua.”

“Kau ada dimana saat ini?”

“Aku baru saja berniat untuk pergi keluar, tapi apa yang kulihat di TV membuatku cukup terkejut.”

“Cukup katamu?! Jangan pergi kemanapun. Kau harus tetap di rumah sampai aku tiba. Dan jangan mengatakan apapun pada siapapun yang menelponmu.”tegasku cepat, “Dan hubungi Ji Yeon. Aku yakin ini ada kaitannya dengan yeoja itu.”

“Kau tidak bisa menyalahkannya. Dia tidak bersalah!”

“Kita akan tahu nanti. Hubungi saja dia dan minta dia datang ke rumahmu sekarang.”ucapku sama sekali tidak ingin dibantah.

Baru saja aku meletakkan gagang telpon kembali ke tempatnya, telpon itu sudah kembali berdering. Beberapa nomor yang tak kukenal terpampang di panel elektroniknya. Ya Tuhan! Kantor pasti sudah gempar saat ini. Dan apa yang akan Appa lakukan kalau dia tahu masalah ini? Aku sudah tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah berita itu tersebar. Saat berita ini masuk TV, majalah yang disebutkan mungkin saja sudah terjual habis.

 

Dua jam kemudian aku sudah mondar mandir di ruang tengah rumah Sungmin sementara kedua bayi kembarku sedang terlelap di kereta dorongnya tidak jauh dari Donghae oppa. Sungmin duduk dengan sikap yang sangat tenang menurutku untuk situasi seperti saat ini.

“Jadi, dimana Ji Yeon saat ini?”

“Aku tidak bisa menghubunginya. Mungkin saja saat ini dia juga sedang diserbu wartawan.”

Aku menatap Sungmin tidak percaya. “Diserbu wartawan saat nama atau bahkan inisialnya tidak muncul sama sekali di majalah?”

“Kenapa kau begitu berniat menjadikan Ji Yeon sebagai penyebab semua ini, Hyu Rie?”tanya Sungmin mulai kesal. “Ji Yeon belum tentu bersalah!”

Donghae mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. Aku tahu itu adalah majalah yang menjadi sumber masalah saat ini. “Aku hanya sekali bertemu dengan Han Ji Yeon, jadi aku tidak terlalu mengingat wajahnya. Disini, ada profil dari orang yang menulis kisahmu, Sungmin.”ujar Donghae oppa sambil menyodorkan majalah itu pada Sungmin.

Aku hanya memperhatikan Sungmin membolak-balik majalah itu hingga menemukan apa yang dicarinya. Seketika itu juga kulihat raut wajahnya berubah drastis. “Kau tahu sekarang kenapa aku berkeras kalau Ji Yeon ada hubungannya, bukan?”

“Aku tidak percaya ini. Apa yang selama ini kukatakan padanya ada disini. Bagaimana bisa dia menuliskan semuanya disini?”ucap Sungmin terlihat benar-benar terpukul. Wajahnya bahkan menggambarkan apa yang hatinya alami saat ini. Dimanfaatkan sekaligus dibohongi oleh orang yang dicintai membuat wajah namja itu nyaris tanpa warna.

Belum sempat aku mengatakan apapun, ponsel Sungmin berdering. Seakan tanpa nyawa Sungmin menjawab panggilan itu. “Yoboseyo?”

Aku sama sekali tidak tahu siapa yang menelpon. Tapi sepertinya teman yang cukup dekat karena Sungmin menjawabnya dengan jujur. Dan hanya ada satu nama yang terlintas saat ini dikepalaku. “Apa itu Siwon?”tanyaku cepat saat Sungmin masih bicara dengan si penelpon.

Sungmin menatapku dan kemudian mengangguk. “Kalau dia tidak sibuk, katakan padanya aku ingin dia kesini secepat yang dia bisa.”

Dan Sungmin pun menyampaikan permintaanku, sepertinya Siwon menyanggupinya karena sebelum Sungmin mengakhiri pembicaraan, dia mengucapkan terima kasih.

“Aku rasa kau harus menghubungi kantormu, chagi. Kalian harus menjelaskan masalah ini. Press conference.”ujar Donghae oppa pelan.

“Aku tahu, oppa. Tapi aku bingung. Apa yang harus dijelaskan? Mengatakan kalau ini semua adalah bohong atau malah mengakui semuanya? Terlalu banyak yang dipertaruhkan untuk ini semua.”

“Aku akan melakukannya. Aku akan mengakui apa yang bisa kuakui. Dan aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan kembali ke rumah. Aku yakin kalau Ji Yeon pasti punya alasan untuk ini semua. Sampai dia menjelaskan alasannya, aku tidak akan menghakimi siapapun.”ujarnya masih berusaha membela Ji Yeon yang semakin membuatku kesal.

“Kau akan apa?”tanyaku nyaris berteriak pada Sungmin. Keberadaan kedua malaikat kecilku yang membuatku tidak melakukan hal itu.

“Aku akan kembali ke rumah, noona. Masalah ini hanya ahjussi yang bisa menyelesaikannya. Walau kita memberikan penjelasan apapun, pers tetap akan mempunyai pendapat sendiri dan memancing pendapat masyarakat.”ujar Sungmin. “Satu-satunya cara adalah membungkam semua media massa. Ahjussi pernah melakukannya sekali, dia pasti bisa melakukannya lagi.”

“Tapi berita ini sudah tersebar. Tidak ada yang lebih baik selain membuat penyataan resmi.”tukasku benar-benar tidak berharap Sungmin sampai seputus asa itu untuk memutuskan kembali ke rumah.

“Dan apa yang harus kukatakan? Apa yang ingin kukatakan nanti pasti akan berbeda dengan apa yang akan diminta oleh kantor.”balas Sungmin cepat.

“Berikan penjelasan dan cegah jangan sampai ada media massa lain yang menerbitkannya lagi.”ujar sebuah suara yang sudah sangat kami kenal.

Aku langsung berbalik dan mendapati kalau Siwon sudah berdiri di pintu masuk.

 

*Sungmin POV*

Aku tidak pernah tahu kalau sepenggal cerita kehidupanku itu bisa membuat pers menyerbu bekas apartemenku hari ini. Dari pagi kantor sudah menelpon kalau ada ratusan panggilan masuk yang menanyakan kebenaran kabar itu. Bahkan beberapa pihak iklan menunda pengambilan gambar karena kericuhan yang disebabkan pers dan fans yang berkerumun di lokasi pengambilan gambar.

Aku sama sekali belum sempat keluar rumah saat telpon pertama dari kantor membangunkanku dari tidur. Salah seorang staf agency mengatakan kalau berita kehidupanku yang selama ini kusimpan rapi sudah terkuak. Bahkan kenyataan kalau aku adalah pewaris L2 juga sudah tersebar. Semua cerita kehidupanku dari masa kecil sudah jadi konsumsi publik hari ini. Kantor juga berkali-kali memperingatkan agar aku tidak keluar dari rumah. Sampai Hyu Rie menelpon dan memaksaku berjanji untuk tidak keluar dari rumah.

Kini Hyu Rie, Donghae hyung dan Siwon sudah berkumpul untuk membahas masalah ini. Sejujurnya berita ini hanyalah berita biasa bagi artis lain. Tapi kenyataan kalau sejak aku debut sampai sekarang hanya pihak agency-ku yang mengetahui latar belakangku yang sebenarnya membuat berita ini bagaikan permata. Dulu pers dan masyarakat hanya tahu kalau aku adalah seorang artis yang debut menjadi penyanyi dengan latar belakang tidak jelas. Hal yang paling menakjubkan yang bisa dibongkar dari latar belakangku saat itu adalah hubungan kekeluargaanku dengan Hyu Rie, dan kenyataan kalau aku juga memiliki hubungan keluarga dengan Lee Donghae, pengusaha sukses Korea. Semuanya bisa ditutupi karena Lee Soo Man benar-benar tidak ingin melihatku menjadi artis sehingga dia menutup semua akses untuk mencari hubunganku dengan keluarga Lee. Dan hanya pihak agency-lah yang bisa mengakses semua informasi itu. Agency-ku sudah ditekan secara finansial untuk tidak mempublikasikan apapun informasi dari latar belakangku. Itu pertama kalinya Lee Soo Man menggunakan kekuasaannya dan ikut turun tangan dalam masalahku.

Sekarang? Seluruh masyarakat Korea Selatan tahu kalau Lee Sungmin bukan lagi artis tanpa latar belakang tapi dia adalah seorang pewaris L2, perusahaan multisektor terbesar di Asia. Dan yang paling tidak kuinginkan adalah kalau ada spekulasi kalau semua prestasiku tidak lepas dari campur tangan L2. Belum lagi masalah aku tinggal dengan mantan kekasihku. Yang pasti akan membawa dampak buruk bagi karirku nanti. Aku masih tidak percaya kalau Ji Yeon yang membuat seluruh tulisan ini. Tapi aku tetap akan menunggu penjelasan darinya. Bukankah kalau kau mencintai seseorang kau akan cenderung memaafkan kesalahannya?

“Bagaimana keadaan sebenarnya sekarang?”tanya Siwon setelah kami berkumpul di ruang tengah.

Hyu Rie menarik napas dalam sebelum menghembuskannya dalam satu kali hembusan. “Parah. Kenyataan kalau tidak ada yang tahu Sungmin pindah rumah membuat pers menyerbu ke apartemennya. Dan penjaga sudah terlanjur mengatakan kalau Sungmin sudah lama pindah dan tidak tinggal disana lagi. Hal itu membuat mereka mulai menyerbu kemana saja tempat yang mungkin didatangi Sungmin. Yang membuatku kagum adalah, kenapa Ji Yeon tidak mencantumkan rumah ini di dalam tulisannya? Padahal dia membahas sampai ke masa kecil Sungmin.”jelas Hyu Rie mulai memperlihatkan kekesalannya.

“Dan dimana Ji Yeon?”tanya Siwon lagi.

“Tidak bisa dihubungi. Dan aku sudah meminta orang kantor untuk melihat ke rumahnya, tidak ada orang disana.” Kali ini Donghae hyung yang menjawab.

“Bisakah kita melupakan Ji Yeon saat ini dan fokus ke bagaimana cara menyelesaikannya?”tanyaku cepat.

Hyu Rie menggeleng cepat. “Bisa-bisanya kau masih membela Ji Yeon setelah apa yang dia lakukan padamu?”tanya Hyu Rie tidak percaya.

“Aku tidak akan menyalahkan siapapun sebelum aku mendengar hal yang sebenarnya.”jawabku cepat.

“Kau sudah berubah, Lee Sungmin.”

Aku langsung menoleh pada Siwon, bingung. “Apa maksudmu?”

“Seingatku dulu kau tidak menanyakan alasanku kenapa Marie sampai masuk rumah sakit dan langsung meninjuku. Begitu juga dengan Hyu Rie yang langsung menamparku. Kalian berdua sangat emosional waktu itu. Tapi sekarang lihat dirimu! Kau memutuskan untuk tidak menyalahkan siapapun sebelum mendengar penjelasan mereka saat karirmu benar-benar diujung tanduk!”jelas Siwon antara sinis dan terdengar geli.

“Anggap saja aku sudah berubah, okay?”selaku cepat karena tidak ingin memperpanjang masalah dengan mengundang komentar dari Hyu Rie_yang aku tahu pasti akan diberikannya.

“Temui Lee Soo Man, dan minta dia membantumu. Setidaknya dia bisa menekan agar berita itu tidak diperbanyak lagi oleh media massa, dan kau bisa menggelar jumpa pers untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini.”ujar Siwon tenang.

Aku memejamkan mata sejenak. Kali ini aku tidak bisa membuat Hyu Rie yang melakukannya, memohon pada ahjussi. Kali ini aku yang akan membereskan semuanya dan berusaha bangkit dengan kekuatanku sendiri. Walau itu artinya aku harus mundur dari dunia entertaint lebih cepat dari yang kubayangkan. Karena kalau ada hal yang diinginkan ahjussi dariku, itu hanya satu, aku kembali ke rumah dan meneruskan L2.

***

*Author POV*

Sungmin langsung menemui Lee Soo Man di rumah keluarga Lee keesokan harinya. Rumah yang sangat besar itu hanya dihuni oleh Lee Soo Man dan beberapa pembantu. Dulu, rumah itu didiami oleh dua keluarga, keluarga Hyu Rie dan keluarga Sungmin sampai peristiwa menghilangnya ibu Sungmin. Setelah itu, rumah yang biasanya selalu dihisi oleh tawa tak ada ubahnya dengan ruangan isolasi. Tidak ada tawa ataupun kebahagiaan selama bertahun-tahun sampai Lee Hye Rin memutuskan kembali dari Vienna.

Sungmin memperhatikan taman yang mengelilingi rumah bercat putih itu. Dulu, dia menghabiskan masa kecilnya bermain di taman itu bersama Hyu Rie dan kuda poni mereka, berlari, melukis, dan bernyanyi. “Merindukan rumah, Sungmin?”tegur Hyu Rie yang memutuskan ikut bersama Sungmin untuk membujuk Lee Soo Man.

“Tidak.”jawab Sungmin datar.

Hyu Rie tidak bertanya apapun sampai pintu besar dihadapan mereka terbuka. Seorang wanita tua tersenyum bahagia sebelum membungkuk dalam. “Selamat datang, Tuan muda dan Nona. Saya tidak tahu harus mengucapkan apa, tapi anda terlihat sangat baik, Tuan Muda.”ujar wanita tua itu tulus.

Sungmin maju dan memeluk kepala rumah tangga itu. “Kau semakin tua, ahjumma.”bisik Sungmin sebelum melepas pelukannya. “Dimana Soo Man ahjussi?”

“Dia sudah menunggu anda di ruang Empire.”

Ruang Empire…bathin Sungmin sesak. Ruangan di rumah itu memiliki nama sendiri. Empire adalah nama yang dipilih ibu Sungmin untuk ruang kerja suaminya yang kini digunakan oleh Lee Soo Man sebagai ruang kerja.

“Baiklah. Kami akan menemuinya langsung.”ujar Hyu Rie datar lalu mendahului Sungmin berjalan menuju tangga spiral besar di sisi kiri ruangan yang lebih sering mereka sebut dengan World Room karena luasnya dan memang tidak berfungsi apapun selain tempat untuk mengadakan jamuan makan dalam skala besar.

Sungmin dan Hyu Rien berjalan bersampingan. Masing-masing dari mereka menggendong satu dari si kembar. Seakan tahu kalau ini pertama kalinya mereka datang ke rumah kakek mereka, Yui dan Yuki hanya diam walau mereka tidak tertidur.

Di pintu pertama lantai dua, Sungmin berhenti. Tangannya bergetar saat ingin menyentuh gagang pintu. Dia ingin sekali masuk ke ruangan itu sebelum Hyu Rie mencegahnya. “Kau bisa kesana nanti, Sungmin.”ujar Hyu Rie lembut.

Hyu Rie tahu dengan pasti kalau ruangan itu memiliki arti yang sangat dalam untuk Sungmin. Dan dia tidak ingin emosi memperngaruhi hasil pembicaraan mereka nanti. Ruang Jasmine adalah kamar orangtua Sungmin. Tempat dia sering menghabiskan malam bersama kedua orang tuanya sebelum terlelap dan dipindahkan ke kamarnya sendiri di ruang King.

Semenit kemudian mereka sudah berdiri di depan pintu ganda berukir. Sungmin membuka gagang pintu dan masuk diikuti oleh Hyu Rie. Didalam ruangan bernama Empire itu, Lee Soo Man duduk di kursi kerja layaknya seorang raja. Seluruh perabotan yang ada di dalam ruangan itu berasal dari zaman yang jauh lebih tua dari kakek buyut mereka.

“Ada yang ingin kuminta darimu.”ujar Sungmin begitu saja bahkan tanpa mengucapkan salam atau apapun.

Soo Man terlihat malas mendengarnya. Tapi pria tua itu tetap mencondongkan tubuhnya dan melipat tangan di meja. “Apa yang bisa kau berikan padaku?”tanya Soo Man tenang.

“Appa!”tegur Hyu Rie langsung kesal dengan sikap ayahnya.

“Kau harus selalu berani berkorban saat menginginkan sesuatu, anakku.”jawab Soo Man tanpa memandang Hyu Rie sedikitpun.

Sungmin mengambil napas dan mengeluarkannya dalam sekali hembusan. “Aku akan kembali ke rumah ini dan melakukan apapun yang kau inginkan.”

 

Sudah hampir seminggu skandal Sungmin menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Seperti masalah lainnya, ada yang pro dan kontra. Sebagian yang menghakimi Sungmin karena pemberitaan yang menyebutkan Sungmin tinggal bersama mantan kekasihnya dalam satu atap tanpa hubungan. Dan dua hari yang lalu Sungmin mengadakan Press conference untuk menjelaskan semuanya sekaligus menyatakan mundur dari dunia entertainment. Tidak sedikit orang yang menduga kalau mundurnya Sungmin dipicu oleh skandalnya ini.

Sungmin benar-benar melaksanakan apa yang diucapkannya. Mundur dari dunia hiburan setelah menyelesaikan semua pekerjaannya yang tersisa. Bahkan Sungmin sudah membereskan Hikari House dan memilih untuk tinggal di rumah keluarganya, mengganti nomor ponselnya, dan beberapa hal lain yang membuatnya benar-benar tidak lagi memiliki hubungan dengan dunia hiburan.

“Aku selalu mengatakan kalau dunia itu tidak pernah cocok untukmu, Lee Sungmin.”ujar Lee Soo Man saat mereka makan malam bersama di rumah keluarga besar Lee.

“Appa. Bisakah kita tidak membicarakan masalah itu?”tanya Hyu Rie yang juga ikut pindah bersama Sungmin.

“Sampai kapan kau akan melindunginya seperti anak kecil, Hyu Rie?”

“Sampai tidak ada lagi orang yang memaksanya melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.”jawab Hyu Rie frontal.

Sungmin menatap Hyu Rie di sebrang tempat duduknya dan mengeleng. “Aku ingin kita makan malam dengan tenang. Apa itu saja sulit untuk dilakukan?”tanya Sungmin dingin.

Mereka bertiga akhirnya makan malam dalam suasana sangat tegang sebelum Hyu Rie mendengar anaknya menangis dari ruangan tepat di sebelah mereka. “Lanjutkan saja makan malammu. Aku yang akan melihat mereka.”ucap Soo Man begitu melihat Hyu Rie bersiap untuk meninggalkan meja makan.

Hyu Rie sadar kalau ayahnya itu sangat menyayangi kedua cucunya. Bahkan sejak mereka pindah kembali ke rumah, Soo Man terlihat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk bermain bersama cucu kembarnya daripada menghabiskan waktu di kantor. Padahal Sungmin belum mengambil alih perusahaan karena masih harus membereskan beberapa hal kecil lainnya.

Terbukti dengan kekuasaan yang dimiliki L2, berita tentang kehidupan pribadi Sungmin tidak terdengar lagi. Semua edisi khusus yang tersisa sudah dilenyapkan dan perusahaan Shindong sudah mendapatkan peringatan untuk tidak menerbitkan berita itu dalam bentuk apapun.

—to be continued—

 

Aku panik! Ini pertama kalinya aku menghadapi orang yang akan melahirkan. “Ya Tuhan, Hyu Rie! Apa kau benar-benar akan melahirkan?”

“Kau kira aku bisa bercanda untuk hal ini? Lagipula kenapa kau yang panik, Sungmin? Sekarang telpon ambulance dan telpon Donghae oppa. Aku harus ke rumah sakit sekarang juga.”

Tanpa mencoba untuk memberikan komentar lain, aku segera menelpon ambulance sebelum menelpon Donghae hyung. Hyu Rie terlihat sangat kesakitan saat ini tapi dia tetap tenang! Sedangkan aku yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa berjalan mondar-mandir di ruang santai dengan keringat dingin mengucur deras dari tubuhku. Aku bahkan lupa untuk menghubungi Ji Yeon dan membatalkan janji kami.

“Daripada kau berjalan mondar-mandir seperti itu yang akan membuat alas sepatumu habis, lebih baik kau ambil tas bayi di kamarku. Aku sudah menyiapkan keperluanku disana.”ujar Hyu Rie di sela-sela rasa sakit yang menerpanya.

Aku berlari ke kamar Hyu Rie, dan mendengar sirene ambulance saat turun. Dengan sangat cepat aku membuka pintu pagar dari dalam rumah dan membuka pintu depan. Beberapa petugas langsung masuk dengan membawa tempat tidur lipat rumah sakit.

“Kau bisa memasukkan tas itu ke dalam ambulance dan pergi ke tempat Ji Yeon.”ujar Hyu Rie begitu berbaring di atas tempat tidur.

“Kau gila? Kau akan melahirkan saat ini, Donghae hyung masih di perjalanan menuju rumah sakit, dan kau menyuruhku pergi menemui Ji Yeon?”tanyaku kesal dengan sikap tenangnya yang sangat tidak tepat waktu. “Aku akan ikut, walau itu artinya kita harus membayar kamar ekstra untukku.”

Kulihat Hyu Rie terkekeh pelan. Dia ingat kalau aku memang takut pada darah. Sebenarnya tidak terlalu fobia, hanya kalau melihat darah dalam jumlah yang sangat banyak, kepalaku akan pusing. Dan itu sudah kualami sejak aku duduk di bangku SMP.

Setelah memastikan menutup dan mengunci semua pintu, aku mengikuti ambulance Hyu Rie dengan mobilku sendiri. Aku ingin sekali ikut bersamanya di dalam ambulance, karena walaupun Hyu Rie itu pemberani dan sangat tenang, dia adalah seorang klaustrofobia. Di dalam ambulance tanpa bisa melakukan apapun dan dikelilingi orang asing mungkin malah akan menambah ketakutannya. Tapi Hyu Rie berkeras agar aku membawa mobil sendiri karena dia takut mengalami perdarahan selama perjalanan yang nantinya malah membuatku pingsan.

 

Aku tidak tahu harus menunggu berapa lama lagi. Kami sudah berdiri disini hampir dua jam tapi sama sekali tidak ada kabar dari dalam.

“Rumah sakit apa ini! Kenapa hanya untuk melahirkan seorang bayi saja selama ini!”seru Lee Soo Man yang memang sudah ikut menunggu sejak sejam yang lalu setelah dihubungi oleh Donghae hyung. “Aku akan memastikan kalau anakku tidak akan pernah dirawat disini lagi! Dan kau! Kenapa kau malah mencari rumah sakit seperti ini?”geramnya yang kali ini ditujukan padaku.

Sebelum aku sempat membalas ucapannya, seorang perawat muncul dan menghampiri kami. “Selamat, Tuan. Nyonya Lee sudah melahirkan anak kembar dengan selamat.”ujar perawat itu yang benar-benar membuat kami kaget.

Kembar? Anak kembar? Sepupuku melahirkan anak kembar?

Hyu Rie selama ini mengatakan kalau anaknya laki-laki. Tapi dia tidak pernah sekalipun mengatakan kalau anaknya KEMBAR! Ya Tuhan! Aku sama sekali tidak bisa mengungkapkan betapa aku ikut bahagia mendengarnya. Kembar terakhir dalam keluarga kami adalah di generasi kakek buyut yang tidak pernah kulihat sendiri saat-saat hidup mereka. Dan sekarang Hyu Rie mendapatkan anak kembar!

“Kamsahamnida. Apa kembar laki-laki atau?”tanyaku begitu tertarik dengan jenis kelamin anak Hyu Rie.

“Laki-laki dan perempuan. Mereka bayi yang sangat cantik dan tampan. Kami akan segera memindahkan Nyonya Lee kalau tidak ada masalah. Dan kalian bisa menemuinya nanti di ruang rawat.”jelas perawat itu lalu segera masuk kembali ke dalam ruang tempat Hyu Rie berada.

Ingin sekali aku mengabadikan wajah Lee Soo Man saat ini. Dia sama sekali tidak terlihat seperti tiran. Saat ini, Lee Soo Man bersikap layaknya seorang ayah sejati. Mencemaskan putrinya yang sedang berjuang melahirkan cucunya. Menangis bahagia mendengar kalau putri dan cucunya selamat. Dia mungkin tidak sadar kalau sosoknya yang seperti inilah yang membuatku dan Hyu Rie menghormatinya, bukan sosoknya saat memimpin perusahaan.

Ciri khas laki-laki yang terlahir di keluarga Lee adalah mereka sanggup menjadi sedingin apapun di hadapan orang lain tapi tidak pernah bisa bersikap dingin pada keluarga sendiri. Hal ini yang menurut Hyu Rie, membuatku berbeda dari appa dan ahjussi.

Aku menyentuh bahunya lembut. “Istirahatlah, ahjussi. Aku tahu kalau kau langsung kesini dari kantor. Kau bisa pulang untuk berganti pakaian dan kembali lagi kesini. Aku dan Donghae hyung tidak akan meninggalkan Hyu Rie sendiri.”ujarku tulus.

Kulihat dia menatapku tidak percaya dan kemudian mengangguk pelan. “Aku akan kembali. Jaga putri dan cucuku.”ujarnya datar dan kemudian melangkah pergi.

Saat itulah ponselku bergetar. Nama Ji Yeon terpampang manis di layarnya. Aku menjawab panggilan Ji Yeon pada dering ketiga. “Ji Yeon-ah~”

“Oediseo? Apa ada masalah?”

Tanpa sadar aku menggeleng. “Aku tidak bisa kesana malam ini. Hyu Rie di rumah sakit. Dia baru saja melahirkan.”

“Jinjja? Ya Tuhan! Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku? Bagaimana keadaannya? Apa jenis kelamin bayinya?”serbu Ji Yeon cepat.

“Tenanglah. Hyu Rie baik-baik saja. Anaknya kembar, laki-laki dan perempuan. Aku terlalu panik tadi hingga lupa memberitahumu.”

“Apa aku harus kesana menemanimu?”

“Ani. Ahjussi akan kembali, dan aku tidak mau dia menekanmu. Aku mungkin akan mampir ke rumahmu saat pulang nanti setelah ahjussi kembali walau agak malam. Tapi kalau kau tidak bisa menungguku, aku akan kesana besok saja. Ini sudah sangat larut.”

“Tidak masalah. Aku akan menunggu. Sampaikan salamku untuk Noona. Aku minta maaf tidak bisa datang malam ini, tapi aku akan membawakan bunga untuknya besok.”

“Gomawo, Ji Yeon-ah.”

“Untuk apa?”

“Untuk peduli pada Hyu Rie dan menjadi bagian hidupku saat ini.”

“Kau terdengar berlebihan Lee Sungmin. Ah, pastikan kalau kau sudah makan, walaupun saat kau kesini nanti aku tetap akan menyuruhmu makan.”

“Arasso, chagi. Istirahatlah, nanti kalau aku sudah tiba di rumahmu, aku akan menelpon.”

Kudengar Ji Yeon membisikkan sesuatu sebelum mengakhiri pembicaraan kami. Aku sama sekali tidak pernah berpikir kalau hubungan kami yang sangat baik ini akan segera hancur layaknya istana pasir beberapa hari kemudian.

***

*Author POV*

Sungmin sedang berada di apartemen Ji Yeon saat undangan itu datang. Sebuah undangan yang sangat indah dengan desain silver dan kuning gading.

“Akhirnya Minjee akan menikah juga.”bisik Ji Yeon sambil menyodorkan undangan pernikahan itu pada Sungmin yang sedang berbaring di sofa sambil menonton TV.

Sungmin hanya menatap Ji Yeon sejenak sebelum kembali menonton acara di TV. “Kenapa kau bersikap seperti ini? Kau tidak suka melihat Minjee menikah?”tanya Ji Yeon yang selalu kesal melihat tingkah Sungmin yang kadang bersikap tidak peduli pada apapun yang berbau ‘Minjee’.

“Haruskah kita membahas itu lagi? Aku tidak ada perasaan apapun pada Minjee. Kau selalu seperti ini, Ji Yeon. Kalau aku bersikap tertarik pada apapun kabar Minjee, kau akan marah. Aku bersikap tidak peduli juga kau tetap marah. Apa kau benar-benar tidak percaya aku menyukaimu? Kita sudah sebulan berpacaran, Ji Yeon-ah~”ucap Sungmin terdengar sangat sabar.

Ji Yeon duduk di lantai dan bersandar di sofa tempat Sungmin yang kini sudah duduk. “Kau tahu? Kehadiranmu disini saat ini bagaikan mimpi. Kau seorang Lee Sungmin ada di apartemen kecilku, dan memilih menghabiskan waktu dengan menonton TV daripada berkencan dengan gadis-gadis cantik yang bisa saja kau ajak keluar kapanpun.”sahut Ji Yeon pelan. “Aku masih tidak percaya sudah menjalani hubungan ini selama lebih dari sebulan.”

Sungmin menarik Ji Yeon kebelakang dan mencium bibir yeoja itu lama. “Pabo! Aku heran kenapa bisa menyukai yeoja pabo sepertimu. Aku memilih berada disini daripada menghabiskan waktu dengan yeoja-yeoja manja itu karena kau ada disini. Aku tidak pernah bosan bersamamu.”bisiknya sebelum kembali mencium Ji Yeon.

Beberapa saat kemudian Sungmin tiba-tiba berdiri dan berjalan mondar mandir di depan Ji Yeon. “Aku ada ide. Minjee akan menikah dua minggu lagi, bukan? Bagaimana kalau saat itu kau mengambil cuti kerja dan liburan denganku? Aku bisa menyelesaikan semuanya minggu ini. Dan diakhir liburan, kita menghadiri pernikahan Minjee di Shanghai.”ujarnya sangat santai.

“Kau serius? Kita? Pergi berdua untuk liburan?”ulang Ji Yeon.

“Ne. Uri. Hanya berdua tanpa orang lain. Seingatku Siwon punya villa di China. Kita bisa meminjamnya dan memintanya untuk merahasiakan masalah ini.”jelas Sungmin cepat.

 

*Ji Yeon POV*

Minggu ini akan menjadi minggu paling membahagian selama 24 tahun kehidupanku. Menghabiskan waktu bersama namja yang kucintai, hanya kami berdua, membuatku nyaris berpikir kalau ini semua hanya mimpi. Bahkan kami menghadiri pernikahan Minjee sebagai pasangan. Minjee dan Tao terlihat bahagia, pernikahan yang memang diadakan tertutup dari media massa itu memungkinkan aku dan Sungmin datang tanpa bersembunyi.

“Ini benar-benar hadiah paling indah dalam hidupku!”seru Minjee saat aku mengatakan kalau aku dan Sungmin sudah berpacaran.

“Aku juga tidak mempercayainya.”bisikku lalu tersenyum.

Aku memang tidak mempercayai ini semua. Pertemuan pertamaku dengan Sungmin bahkan tidak bisa dibilang normal. Dan kemudian terjebak di rumahnya karena janji ahjumma dan Sungmin, lalu sekarang kami berpacaran. Tidak ada yang biasa dari ini semua.

Sungmin menyelipkan tangannya dan kemudian menggenggam tanganku. “Kalau ini memang mimpi, aku tidak ingin bangun dari tidurku selamanya.”ujarnya terdengar tulus.

“Hei hei hei. Ini hari pernikahanku. Aku yang menjadi bintang malam ini, bukan kalian. Dan jangan sampai ada airmata di hari bahagia ini.”tegur Minjee yang langsung menggandeng Tao dan kemudian berkeliling menyapa tamu-tamu lain.

Sungmin tertawa renyah dan kemudian mengecup bibirku lembut sebelum membisikkan sesuatu yang membuat wajahku memerah. Untuk pertama kalinya sejak kami berpacaran, Sungmin mengatakan kalau dia mencintaiku.

Sejak berpisah dengan Hankyung oppa karena kami sadar kalau hubungan kami tidak bisa dilanjutkan lagi, aku tidak pernah lagi bersungguh-sungguh mencintai seseorang, karena kau tetap akan ditinggalkannya. Suatu saat pasti akan berpisah juga. Karena itu aku tidak pernah lagi benar-benar menyayangi seseorang. Tapi sejak mencintai Sungmin, aku mulai berharap kalau cinta sejati itu memang ada. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Aku tidak bisa membayangkan hari-hari yang akan kulalui tanpa dia disisiku.

Aku memang masih menulis semua cerita kehidupan Sungmin, tapi itu TIDAK akan kuberikan pada Shindong-ssi. Apapun yang terjadi dalam kehidupan Sungmin hanya akan menjadi miliknya. Tidak ada orang lain yang berhak mengoreknya tanpa persetujuannya.

***

*Author POV*

Ji Yeon berlari kencang menuju ruangan Shindong. Dia sama sekali tidak menyangka kalau komputer yang dipakainya di kantor selama ini dibobol oleh Shindong sejak tiga yang lalu saat Ji Yeon mengambil cuti dan pergi liburan bersama Sungmin ke villa Siwon dengan pengamanan ketat. Padahal Ji Yeon sudah memastikan kalau komputernya memakai password. Di dalam komputernya ada data mengenai detail kehidupan Sungmin yang selama ini dikumpulkan Ji Yeon dalam berbagai kesempatan. Tapi semua itu dibuat Ji Yeon hanya untuk kepentingan pribadinya sejak dia dan Sungmin berpacaran. Karena itu Ji Yeon memproteksi segala hal yang berhubungan dengan Sungmin dalam semua file-nya.

BRAK!

“Apa yang kau lakukan disini, Ji Yeon-ah?”tanya Shindong kaget begitu melihat Ji Yeong menerobos masuk ke dalam kantornya tanpa mengetuk pintu.

“Dimana file Sungmin?”

“Ah, masalah itu. Aku seharusnya memberikanmu kenaikan gaji bukan? Tapi tunggu setelah semua majalah edisi khusus itu kita terbitkan dan aku akan memberikan bonus yang sangat besar untuk hasil kerjamu yang sangat bagus itu.”

Ji Yeon terdiam. “Apa maksudnya akan diterbitkan?”

“Jangan bodoh, Ji Yeon. Kau mengumpulkan itu karena perintahku. Dan tentu saja kita akan menerbitkan edisi khusus itu. Majalah kita akan membuat pemilik percetakan lain iri.”ujar Shindong ringan. “Tenang saja. Edisi khusus kita akan terbit besok.”

“Besok?”ulang Ji Yeon seakan mendengar vonis mati untuknya.

“Tepat sekali. Besok.”

—to be continued—